Radar Pasuruan - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kawasan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr dilaporkan menjadi sasaran serangan udara Amerika Serikat pada Kamis.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 14 orang meninggal dunia akibat serangan yang dilakukan Amerika Serikat dalam dua hari terakhir di sejumlah wilayah selatan negara itu.
Konflik terbaru ini terjadi setelah meningkatnya aksi saling serang yang dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.
Berdasarkan laporan kantor berita pemerintah Iran, IRNA, proyektil yang diluncurkan Amerika Serikat menghantam area perimeter atau kawasan sekitar PLTN Bushehr. Informasi tersebut disampaikan Wakil Gubernur Provinsi Bushehr, Ehsan Jahangirian.
Selain area di sekitar fasilitas nuklir, serangan juga disebut menyasar sejumlah lokasi lain di Provinsi Bushehr, termasuk Pangkalan Militer Choghaddak dan Dermaga Nelayan Benoud di Asaluyeh.
"Serangan berlanjut menghantam beberapa lokasi di Provinsi Bushehr, termasuk area di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir, pangkalan militer Choghaddak, dan dermaga nelayan," kata Ehsan Jahangirian seperti dikutip IRNA.
Meski kawasan sekitar fasilitas nuklir menjadi sasaran serangan, pihak berwenang Iran menyatakan belum menerima laporan adanya korban jiwa di wilayah Bushehr.
Namun demikian, serangan yang menghantam Dermaga Benoud menyebabkan sejumlah kapal nelayan milik warga mengalami kebakaran. Tim tanggap darurat telah diterjunkan untuk melakukan penanganan, menilai kerusakan yang terjadi, serta mengamankan area terdampak.
Baca Juga: Ancaman Baru Trump ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Global
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan sebanyak 14 orang meninggal dunia akibat rangkaian serangan udara Amerika Serikat yang berlangsung selama dua hari terakhir di kawasan selatan Iran.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan operasi militer yang dilakukan difokuskan pada target-target yang berkaitan dengan aktivitas militer Iran di Selat Hormuz.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan serangan tersebut bertujuan menghancurkan kapal-kapal kecil yang disebut digunakan pasukan Iran untuk memasang ranjau laut di Selat Hormuz dan wilayah perairan sekitarnya.
Sementara itu, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan gelombang serangan terbaru telah menghantam sekitar 90 target di Iran. Sasaran yang diserang meliputi sistem pertahanan udara, gudang penyimpanan rudal dan drone, fasilitas angkatan laut, hingga infrastruktur logistik yang berada di sepanjang pesisir Iran.
Di tengah operasi militer yang masih berlangsung, Presiden Trump menyatakan Iran saat ini disebut sangat ingin mencapai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
Meski mengaku masih membuka ruang diplomasi, Trump menegaskan hingga kini belum ada indikasi dimulainya perundingan baru antara kedua negara.
Trump juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melancarkan serangan yang jauh lebih besar apabila Iran kembali melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Di tengah memanasnya situasi keamanan, jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tiba di Kota Mashhad, wilayah timur laut Iran, untuk dimakamkan pada Kamis.
Prosesi pemakaman tersebut berlangsung 131 hari setelah Khamenei dilaporkan meninggal dunia pada awal pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Baca Juga: Indonesia Perlu Tambah Kapal Perang, Pakar Ingatkan APBN Tak Boleh Terbebani Pengadaan Keliru
Editor : Moch Vikry Romadhoni