Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Rupiah Kembali Sentuh Rp 18.000 per Dolar AS, Begini Penjelasan Pengamat

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:17 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Radar Pasuruan - Nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu (8/7). Berdasarkan data Google Finance, kurs rupiah mulai berada di angka tersebut sekitar pukul 03.40 WIB.

Sepanjang perdagangan, pergerakan rupiah sempat beberapa kali kembali menguat di bawah level Rp18.000 per dolar AS. Namun tekanan kembali meningkat sejak sekitar pukul 08.15 WIB hingga akhirnya ditutup di posisi Rp18.050 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal maupun domestik yang masih membayangi pasar keuangan.

Menurut Ibrahim, salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi memanas setelah Amerika Serikat melakukan serangan terhadap fasilitas Iran di kawasan Selat Hormuz menyusul intervensi Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut.

Ia menjelaskan kondisi tersebut semakin sensitif karena bertepatan dengan masa berkabung dan prosesi pemakaman Ayatullah Khomeini beserta keluarganya. Situasi itu memunculkan kekhawatiran akan adanya respons balasan dari Iran terhadap serangan Amerika Serikat.

"Padahal sebelumnya Presiden Donald Trump menyampaikan bahwa selama lima hari masa berkabung Amerika tidak akan melakukan penyerangan terhadap Iran. Namun pada kenyataannya serangan tetap terjadi. Hal ini kembali meningkatkan ketegangan di kawasan," ujar Ibrahim dalam rekaman video yang diterima JawaPos.com, Rabu (8/7).

Baca Juga: Damai AS-Iran Bawa Berkah! Rupiah Langsung Menguat Tajam ke Rp17.709

Selain faktor global, Ibrahim menilai kondisi ekonomi dalam negeri juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Ia menyebut neraca perdagangan pada semester II mengalami pelemahan, sementara defisit anggaran telah mencapai sekitar 2,86 persen atau lebih tinggi dibanding target sekitar 2,68 persen.

Di sisi lain, meskipun cadangan devisa Indonesia meningkat, kondisi tersebut dinilai belum mampu memberikan dorongan signifikan terhadap penguatan rupiah karena tren cadangan devisa masih menunjukkan penurunan dalam dua tahun terakhir.

Faktor lain yang ikut memberikan tekanan adalah meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor, terutama industri manufaktur dan infrastruktur. Kondisi itu dipicu oleh banyaknya perusahaan yang menghentikan operasional usahanya.

"Tekanan dari faktor eksternal maupun internal masih sangat kuat. Karena itu, peluang rupiah untuk kembali menguat signifikan ke bawah level Rp18.000 per dolar AS masih cukup sulit dalam waktu dekat," pungkasnya.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#ekonomi indonesia #nilai tukar #Dolar AS #Ibrahim Assuaibi #rupiah