Radar Pasuruan - Akademisi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Muhammad Yamin, menilai konflik di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 berpotensi mengganggu industri pariwisata global. Hal ini dipicu terganggunya konektivitas penerbangan internasional.
“Penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah membuat jaringan penerbangan global mengalami gangguan signifikan, karena kawasan tersebut selama ini menjadi jalur transit utama penerbangan internasional,” ujarnya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa dalam dua dekade terakhir kawasan Timur Tengah berkembang menjadi pusat konektivitas penerbangan dunia. Sejumlah bandara hub utama di wilayah itu menghubungkan berbagai rute penerbangan dari Eropa, Asia, Afrika hingga Amerika.
Menurutnya, bandara internasional di Timur Tengah seperti Dubai, Doha, dan Abu Dhabi selama ini berperan sebagai simpul transit bagi puluhan ribu penumpang setiap hari melalui maskapai besar seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways.
Yamin mengatakan penutupan ruang udara di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, Kuwait, dan Yordania tidak hanya berdampak secara regional. Kondisi tersebut juga memengaruhi mobilitas penerbangan global.
“Banyak penerbangan internasional yang dibatalkan atau dialihkan. Ribuan penumpang terlantar di berbagai bandara karena rute transit melalui kawasan Teluk tidak dapat dilanjutkan,” tegasnya.
Ia menambahkan gangguan tersebut juga berdampak pada sejumlah destinasi wisata di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada konektivitas penerbangan melalui hub di Timur Tengah.
Sebagai contoh, sejumlah penerbangan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, sempat dibatalkan karena terganggunya rute menuju Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.
Menurutnya, pembatalan penerbangan itu membuat ribuan calon penumpang terdampak. Sebagian wisatawan asing yang sedang berlibur di Bali juga harus mencari penerbangan alternatif untuk kembali ke negara asal mereka.
“Ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik yang terjadi jauh dari Indonesia tetap dapat memberikan efek domino terhadap sektor pariwisata nasional,” jelasnya.
Selain gangguan penerbangan, konflik di Timur Tengah juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dapat berdampak pada meningkatnya biaya operasional maskapai penerbangan.
Ia menilai kenaikan biaya operasional maskapai pada akhirnya bisa memicu peningkatan harga tiket pesawat. Hal ini berpotensi menurunkan minat wisatawan untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
“Wisatawan leisure biasanya sangat sensitif terhadap harga. Ketika harga tiket meningkat, mereka cenderung menunda perjalanan atau memilih destinasi yang lebih dekat,” katanya.
Yamin menambahkan dampak konflik juga dapat dirasakan pada sektor pariwisata bisnis, seperti kegiatan meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) yang sangat bergantung pada konektivitas penerbangan internasional.
Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan sektor pariwisata melalui diversifikasi rute penerbangan internasional serta perluasan pasar wisatawan.
“Ketergantungan pada rute transit tertentu perlu dikurangi dengan memperkuat konektivitas langsung ke pasar utama serta memperluas pasar wisatawan dari kawasan Asia dan Asia Tenggara,” ujarnya.
Ia juga menilai industri pariwisata global sebenarnya memiliki daya tahan yang cukup kuat. Sektor ini pernah melewati berbagai krisis, mulai dari serangan 11 September 2001 hingga pandemi COVID-19.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa stabilitas geopolitik tetap menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri pariwisata di dunia.
“Industri pariwisata sangat bergantung pada stabilitas dan konektivitas global. Ketika konflik menutup jalur penerbangan internasional, dampaknya langsung dirasakan oleh ekosistem pariwisata di berbagai negara,” pungkas Yamin.
Editor : Moch Vikry Romadhoni