Radar Pasuruan - Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah yang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh pada akhir November 2025. Berbagai pihak, mulai dari artis, pejabat publik hingga pemerintah, terus menyalurkan bantuan bagi para pengungsi yang terdampak.
Salah satu bentuk dukungan datang dari influencer kuliner Amrizal Nuril Abdi, atau yang dikenal sebagai King Abdi, dengan menyiapkan makanan berukuran besar untuk para korban banjir.
"Makan besar 6.000 porsi bersama King Abdi untuk korban banjir bandang di Aceh Tamiang," tulisnya dalam unggahan Instagram @kingabdi_jajanmercon pada Jumat, 12 Desember 2025.
Food vlogger tersebut juga menyampaikan keluh kesah para warga yang kehilangan harta benda akibat bencana.
Dalam unggahannya, ia menyoroti momen haru ketika para pengungsi menangis saat menyantap makanan yang ia sajikan. King Abdi, yang dikenal sebagai jebolan MasterChef Indonesia (MCI) 10, menyiapkan hidangan daging sapi, ayam, udang, serta sayur untuk para pengungsi.
"Mereka para relawan yang juga sebagai korban, membantu saya masak mulai jam 2 sore sampai jam 5 sore," ujarnya.
Ia mengaku tersentuh melihat para pengungsi tetap tertib meski sedang kelaparan.
"Mereka lapar tapi mereka mendahulukan yang lain," ungkapnya.
"Mereka tidak serakah, banyak yang mengambil sedikit makanan dengan masakan kami yang super melimpah," lanjutnya.
King Abdi juga membagikan momen ketika para pengungsi terharu saat menikmati bantuan pangan tersebut.
"Ketika kami tanya, 'kenapa makannya sedikit?' mereka menjawab dengan senyum, biar semua kebagian," jelasnya.
Dalam sebuah video, seorang ibu tampak menangis saat menyantap sepotong daging sapi.
"Dua minggu baru makan daging," ujarnya.
Pada unggahan lainnya, Kamis 11 Desember 2025, King Abdi menyebut bahwa banyak korban masih mengalami kelaparan setelah bencana.
"Ini jelas, mereka tidak butuh apa-apa, mereka hanya butuh kepastian besok apakah ad yang masih bisa dimakan?" tulisnya.
Ia menambahkan bahwa para pengungsi hanya berlindung di masjid dan di bawah terpal sederhana.
"Hanya masjid dan terpal, mereka berteduh. Hanya baju dan tempelan lumpur sisa kepedihan dan uka yang masih sangat basah," ungkapnya.
Menurutnya, luka yang dialami para korban tidak bisa pulih dalam waktu singkat.
"(Derita korban) tidak akan hilang dalam waktu sekejap," tutupnya.