Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Remaja Palestina Ditembak di Mata Saat Cari Makanan, Kini Tak Bisa Melihat

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 8 Agustus 2025 | 02:35 WIB
Remaja Palestina ditembak oleh tentara Israel saat mengantre bantuan makanan.
Remaja Palestina ditembak oleh tentara Israel saat mengantre bantuan makanan.

Radar Pasuruan - Seorang remaja Palestina berusia 15 tahun, Abdul Rahman Abu Jazar, menjadi salah satu korban dalam krisis kemanusiaan yang kian memburuk di Gaza.

Ia ditembak di bagian mata oleh tentara Israel ketika sedang berupaya mendapatkan makanan untuk keluarganya di dekat area distribusi bantuan yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel.

Menurut dokter yang menanganinya, peluang Abdul untuk kembali bisa melihat dengan mata kirinya sangat kecil.

Dari ranjang rumah sakit, Abdul Rahman membagikan kisah menyedihkannya dengan mata kiri yang dibalut perban putih.

“Itu kali pertama saya ke lokasi distribusi. Saya ke sana karena saya dan adik-adik saya benar-benar tidak punya makanan. Tidak ada apa pun yang bisa kami makan,” tuturnya kepada Al Jazeera, dikutip Kamis (7/8).

Ia memulai perjalanan sejak pukul 2 dini hari menuju area Taman al-Muntazah di Gaza City, dan tiba lima jam kemudian. Saat itulah tembakan mulai dilepaskan.

“Kami langsung lari ketika tembakan dilepaskan. Tiga orang di dekat saya kena tembak. Saat saya mulai lari, rasanya seperti kena setrum. Saya jatuh dan tidak sadar,” kenangnya. Ketika terbangun, ia baru menyadari telah tertembak di kepala.

Seorang dokter mencoba memeriksa penglihatannya dengan sinar dari senter ponsel, tetapi Abdul Rahman tak bisa melihat cahaya sama sekali. Hasil diagnosis menyebutkan peluru telah menembus matanya.

Meski telah menjalani operasi, harapan untuk melihat kembali sangat kecil. “Saya masih berharap penglihatan saya bisa pulih, insya Allah,” ujarnya.

Kelaparan yang Terstruktur dan Terorganisir

Peristiwa ini terjadi di tengah krisis kelaparan yang sangat parah di Gaza. Dalam waktu 24 jam terakhir, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 119 jenazah, termasuk 15 korban dari reruntuhan, serta 866 korban luka yang dilarikan ke rumah sakit.

Dari jumlah tersebut, setidaknya 65 orang tewas saat mencoba mendapatkan bantuan pangan, dan 511 lainnya mengalami luka. Pada Minggu (3/8) pagi saja, menurut data dari rumah sakit yang dikutip Al Jazeera, 92 warga Palestina meninggal akibat tembakan tentara Israel, termasuk 56 orang yang sedang mengantre bantuan makanan.

Menurut PBB, lebih dari 1.300 warga Palestina telah meninggal dunia sejak mereka mencoba mengakses lokasi distribusi bantuan yang dikelola oleh Global Humanitarian Foundation (GHF) sejak Mei lalu. Aksi penembakan terhadap warga yang membutuhkan bantuan makanan bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari pola kekerasan yang terus berulang.

Hingga kini, sedikitnya 175 orang, termasuk 93 anak-anak, meninggal akibat kelaparan dan kekurangan gizi yang disebut sebagai dampak langsung dari blokade yang diberlakukan oleh Israel. Berdasarkan data dari Global Nutrition Cluster, lebih dari 6.000 anak Palestina kini menjalani perawatan karena menderita malnutrisi akut.

Sementara itu, laporan dari jurnalis Al Jazeera, Hind Khoudary, yang melaporkan langsung dari Deir el-Balah, menyebut kondisi di lapangan jauh dari klaim adanya jeda kemanusiaan yang memungkinkan lebih banyak bantuan masuk.

“Hanya sekitar 80 sampai 100 truk bantuan yang masuk setiap hari, padahal jumlah penduduk Gaza sangat besar. Masyarakat bahkan kesulitan untuk mendapatkan satu karung tepung gandum,” ungkapnya.

Khoudary menambahkan bahwa masyarakat sangat menggantungkan hidup pada distribusi bantuan dari lembaga internasional, namun banyak titik distribusi yang tidak lagi beroperasi sejak awal blokade diberlakukan.

“Warga Palestina meninggal setiap hari karena kelaparan yang disengaja. Dan sekarang, mereka juga dibunuh hanya karena mendekati truk bantuan untuk mendapatkan makanan,” ujarnya.

Pemerintah Gaza pun menuding Israel secara sistematis menghalangi masuknya lebih dari 22.000 truk bantuan kemanusiaan, mayoritas berasal dari PBB dan organisasi internasional lain. Tuduhan ini menyebutkan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari kampanye terencana untuk menciptakan ‘kelaparan, pengepungan, dan kekacauan’ di wilayah Gaza yang sedang terkepung.

 

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#buta #ditembak #palestina #mata