Kenaikan ini juga diperkuat dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik yang semakin panas antara Israel dan Iran.
Sejumlah analis energi, baik dari dalam maupun luar negeri, memperkirakan harga minyak mentah berpotensi menembus angka lebih dari USD 100 per barel.
Peningkatan harga tersebut diyakini akan terjadi jika Iran memutuskan membalas serangan dari AS dan Israel dengan menutup Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur perdagangan vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global, termasuk minyak yang diimpor oleh Indonesia.
Apa Dampaknya ke Harga BBM RI? Bisa Ikut Naik Juga?
Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak mentah dunia akan langsung berdampak pada harga BBM non-subsidi.
Hal ini karena harga BBM non-subsidi, seperti Pertamax ke atas, memang dievaluasi tiap bulan mengikuti pergerakan harga minyak global.
Untuk BBM bersubsidi, Fahmy menyatakan kemungkinan harga baru naik jika harga minyak dunia melewati USD 100 per barel.
Namun jika harga minyak mentah masih berada pada kisaran USD 90–100, BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar tetap dipertahankan tanpa kenaikan harga.
Fahmy menambahkan, menaikkan harga BBM subsidi di saat harga minyak belum melampaui USD 100 berisiko menimbulkan tekanan besar bagi ekonomi nasional.
"Dampaknya bisa mendorong inflasi dan menurunkan daya beli. Jadi kalau masih di bawah USD 100, sebaiknya harga subsidi tidak dinaikkan dulu, walau akan menambah beban APBN," tutup Fahmy.
Editor : Moch Vikry Romadhoni