Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Imbas Tarif Impor, Tiongkok Batasi Film Hollywood, Perang Dagang dengan AS Masuk Dunia Hiburan

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 12 April 2025 | 00:49 WIB

 

ilustrasi: Aktor Brad Pitt menghadiri acara promosi film Allied di Shanghai, Tiongkok, pada tahun 2016.
ilustrasi: Aktor Brad Pitt menghadiri acara promosi film Allied di Shanghai, Tiongkok, pada tahun 2016.

Radar Pasuruan - Aksi saling balas antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok terus berlanjut. Kini, ketegangan dagang antara kedua negara meluas ke sektor hiburan.

Pemerintah Tiongkok secara resmi mengumumkan pembatasan penayangan film-film Hollywood di negaranya.

Kebijakan ini merupakan respons atas kenaikan tarif impor terhadap produk Tiongkok oleh AS, yang melonjak menjadi 145 persen dari sebelumnya 125 persen.

Pengumuman tersebut disampaikan oleh Administrasi Film Nasional Tiongkok pada Kamis (10/4).

Mengutip laporan Aljazeera, Jumat (11/4), pihak administrasi telah mengambil langkah tegas untuk secara signifikan memangkas kehadiran film-film produksi Hollywood di pasar dalam negeri.

Pihak Administrasi Film Nasional Tiongkok menilai AS telah bertindak keliru dengan memperlakukan tarif balasan secara sepihak.

Mereka meyakini bahwa langkah tersebut akan memperlemah minat penonton lokal terhadap film Amerika.

“Kami akan mengikuti aturan pasar, menghormati pilihan penonton, dan mengurangi secara moderat jumlah film Amerika yang diimpor,” demikian pernyataan resmi mereka.

Kebijakan ini tidak terlalu mengejutkan para analis yang telah memperkirakan bahwa Tiongkok bisa menyasar industri hiburan AS, termasuk Hollywood, sebagai bagian dari respons terhadap kenaikan tarif. Meski hanya menerima sekitar 10 film Hollywood tiap tahunnya, pasar bioskop Tiongkok masih menjadi salah satu sumber pendapatan besar bagi industri film Amerika.

Chris Fenton, penulis buku Feeding the Dragon: Inside the Trillion Dollar Dilemma Facing Hollywood, the NBA, and American Business, menilai langkah ini sebagai sinyal serius dari Tiongkok. Menurutnya, dampak simbolis dari pembatasan film dapat menjadi tekanan tersendiri bagi AS.

“Hukuman yang diberikan kepada Hollywood ini adalah langkah penuh percaya diri dari Beijing yang menguntungkan di semua sisi dan pasti akan menarik perhatian Washington,” ujar Fenton kepada Reuters.

Dari sisi pendapatan box office, pengaruh film Barat memang menurun di Tiongkok. Saat ini, kontribusi film Hollywood hanya sekitar 5 persen dari total pendapatan bioskop setempat. Meski demikian, pembatasan tersebut tetap jadi ancaman bagi peluncuran film blockbuster seperti Mission: Impossible – The Final Reckoning, reboot Superman dari Warner Bros., hingga The Fantastic Four dari Marvel.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump tampaknya menanggapi ancaman ini dengan santai. Dalam pernyataannya pada Kamis, ia tidak menunjukkan kekhawatiran meskipun ada kritik dari pelaku industri film.

“Saya rasa, saya pernah mendengar hal yang lebih buruk,” katanya saat menjawab pertanyaan wartawan.

Di sisi lain, perusahaan IMAX (IMAX.N) menyebut bahwa jadwal pemutaran film berformat besar, termasuk dari Hollywood, Tiongkok, dan negara lain, tidak akan terdampak signifikan oleh kebijakan tersebut.

“Kami terus memperkirakan tahun yang kuat untuk IMAX di Tiongkok, setelah kuartal pertama kami yang menghasilkan pendapatan kotor tertinggi di negara ini," kata juru bicara IMAX kepada Reuters. Senada, analis utama S&P Global Market Intelligence Kagan, Seth Shafer, juga menilai dampaknya akan terbatas.

“Hanya sekitar 25 persen film Hollywood yang dirilis luas di AS kini tayang di Tiongkok, dan angkanya terus menurun karena industri film lokal Tiongkok semakin kuat,” jelasnya. Bahkan, bagi film Hollywood yang berhasil masuk pasar Tiongkok, pemasukan dari sana biasanya kurang dari 10 persen dari total pendapatan global film.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#film hollywood #as #impor #tiongkok