Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Tiap Tanggal 8 Februari Peringati Hari Jadi, Begini Sejarah Kota Pasuruan

Muhammad Fahmi • Jumat, 9 Februari 2024 | 03:02 WIB
Rincian selengkapnya Jalanan Pasuruan pada tahun 1934, terdapat lampu lalu lintas dan saat ini menjadi nama Jalan Niaga. (Tropenmuseum)
Rincian selengkapnya Jalanan Pasuruan pada tahun 1934, terdapat lampu lalu lintas dan saat ini menjadi nama Jalan Niaga. (Tropenmuseum)

Tanggal 8 Februari, selalu diperingati sebagai hari jadi Kota Pasuruan. Tahun 2024 ini, Kota Pasuruan sudah memasuki usia 338 tahun.

Sejumlah acara pun kerap digelar untuk memeringati hari jadi Kota Pasuruan tiap tahunnya.

Tahun ini, digelar seremoni tak biasa. Yakni apel di Taman Wisata Kampung Mebel di Bukir.

Kota Pasuruan sendiri secara geografis terletak tak jauh dari Kota Surabaya. secara astronomis, Kota Pasuruan terletak pada 112°45′–112°55′ Bujur Timur dan 7°35′–7°45′ Lintang Selatan.

Kota Pasuruan hanya berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasuruan. Mulai sisi barat, selatan, dan timur. Serta Selat Madura di sisi utara.

Kota Pasuruan berada di dataran rendah. Ketinggiannya rata-rata 4 meter di atas permukaan laut. Kondisi Kota Pasuruan yang jadi hilir sungai Gembong, Petung dan Welang, membuat kawasan setempat langganan banjir saat penghujan.

Sejarah Singkat

Berdasarkan dari sejumlah literasi, Pasuruan di masa lalu dikenal dengan nama ‘Paravan’.

Orang Tionghoa menyebut Pasuruan sebagai Yanwang atau Basuluan.

Ada juga yang menyandingkan nama Pasuruan dengan kata ‘Pasar dan ‘Oeang’.

Hal itu tidak lepas dari ramainya perdagangan di Pasuruan dengan adanya Pelabuhan Tanjung Tembikar.

Sehingga mampu menarik banyak kaum pedagang untuk datang ke Pasuruan. Berkat pelabuhan ini pulalah di masa lalu Kota Pasuruan menjadi salah satu pusat terjadinya transaksi dagang antar pulau di kawasan timur nusantara.

Letak geografisnya yang strategis menjadikan Pasuruan sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau serta antar negara.

Banyak bangsawan dan saudagar kaya yang menetap di Pasuruan untuk melakukan perdagangan. Hal ini membuat kemajemukan bangsa dan suku bangsa di Pasuruan terjalin dengan baik.

Sejarah Kota Pasuruan sendiri tidak bisa dilepaskan dari keseluruhan sejarah Pasuruan.

Seperti naik takhtanya Untung Suropati sebagai salah seorang raja Pasuruan. Ataupun Adipati Dharmoyudo yang secara turun temurun pernah menjadi penguasa Pasuruan.

Balai kota Pasuruan saat dipotret pada tahun 1934. (Troppenmuseum)
Balai kota Pasuruan saat dipotret pada tahun 1934. (Troppenmuseum)

Namun secara legalitas formal, kepastian mulai adanya Pemerintah Kota setelah dibentuknya Residensi Pasuruan pada 1 Januari 1901 oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Kemudian ditindaklanjuti pembentukan Kota Praja (Gementee) Pasuruan seperti termaktub dalam Staatblat 1918 No. 320 dengan nama Stads Gementee van Pasoeroean pada tanggal 20 Juni 1918.

Semasa Presiden Soekarno, Pasuruan dinyatakan sebagai Kotamadya dengan wilayah kekuasaan terdiri dari tiga desa dan satu kecamatan.

Pada 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan dengan 19 kelurahan dan 15 desa.

Pada 2012, wilayah Kota Pasuruan kembali dimekarkan menjadi empat kecamatan. Selain Kecamatan Purworejo, Gadingrejo dan Bugul Kidul, ada Kecamatan Panggungrejo.

Saat ini, Kota Pasuruan memiliki total 34 kelurahan. Rinciannya, Kecamatan Panggungrejo punya 13 kelurahan, Kecamatan Gadingrejo ada 8 kelurahan, Kecamatan Purworejo ada 7 kelurahan dan Kecamatan Bugul Kidul ada 6 kelurahan.

 

Editor : Muhammad Fahmi
#sejarah pasuruan #Kota Pasuruan #Pemkot Pasuruan