Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Wisata Banyu Biru Sepi, Konsep Wisata Syariah Tuai Pro-Kontra

F
Penulis: Fuad Alyzen❯

 

BERWISATA: Sejumlah warga berwisata ke Banyu Biru, Kabupaten Pasuruan. Destinas wisata ini sempat akan dikonsep mennadi tempat wisata syariah.
BERWISATA: Sejumlah warga berwisata ke Banyu Biru, Kabupaten Pasuruan. Destinas wisata ini sempat akan dikonsep mennadi tempat wisata syariah.

Radar Pasuruan - Banyu Biru, sumber mata air yang menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Pasuruan, kini mengalami penurunan jumlah pengunjung.


Advertisement

Wisata pemandian alami yang sudah lama menjadi favorit warga ini sebelumnya dikenal karena harga tiket yang terjangkau serta perannya dalam mendukung perekonomian warga sekitar.

Namun, rencana mengubahnya menjadi wisata syariah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pedagang setempat.

Konsep wisata syariah dikhawatirkan akan semakin mengurangi jumlah wisatawan.

Advertisement

Ditambah dengan kondisi fasilitas yang kurang terawat dan beberapa di antaranya terbengkalai, pengunjung kini hanya bisa menikmati kolam alami tanpa adanya daya tarik tambahan.

Sejumlah pedagang di sekitar lokasi mengeluhkan sepinya pembeli akibat menurunnya jumlah pengunjung.

Sukma, 46 tahun, seorang pedagang asal Desa Sumberejo, Kecamatan Winongan, mengungkapkan bahwa pendapatannya merosot drastis.

Advertisement

"Kadang dalam sehari tidak ada yang beli. Apalagi kalau hujan," ujarnya.

Sukma juga merasa keberatan dengan konsep pemisahan kolam laki-laki dan perempuan. Menurutnya, konsep ini akan merepotkan bagi pengunjung keluarga yang membawa anak-anak, karena mereka harus memilih antara kolam laki-laki atau perempuan.

"Kalau anak-anak menangis ingin bersama orang tuanya, bagaimana? Ini kan wisata untuk umum," tambahnya.

Selain itu, ia khawatir konsep wisata syariah akan membuat wisatawan nonmuslim enggan berkunjung. Selama ini, wisatawan dari berbagai daerah, termasuk dari Bali, sering mengunjungi Banyu Biru.

Setelah Pandemi Covid-19, wisata ini sempat kembali ramai. Namun, antusiasme tersebut tidak bertahan lama. Kini, pengunjung sangat minim, dan pedagang harus lebih aktif menawarkan dagangannya secara langsung.

Pedagang lainnya, Tiarsi (65), juga mengungkapkan keprihatinannya. Sebelum pandemi, wisatawan yang masuk bisa mengantre panjang hingga menyebabkan kemacetan. Namun, kini kondisinya jauh berbeda.

"Dulu sebulan bisa dapat Rp 4 juta. Sekarang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu saja susah," ujarnya. Ia berharap Bupati Pasuruan, Rusdi, dapat melakukan perubahan agar wisata ini kembali ramai.

Menurutnya, konsep wisata syariah sah-sah saja, namun jika justru membuat wisatawan enggan datang, maka sebaiknya ditinjau ulang. Ia mengusulkan agar kolam buatan yang telah ditutup bisa kembali dihidupkan, serta fasilitas tambahan seperti spot foto bawah air dan wahana bermain anak-anak bisa disediakan.

Kepala Desa Sumber Rejo, Kecamatan Winongan, Sakri, juga mengakui bahwa banyak warga bergantung pada wisata ini untuk mata pencaharian mereka, baik sebagai pedagang maupun juru parkir. Ia optimistis bahwa setelah Ramadan, jumlah pengunjung akan kembali meningkat.

Terkait konsep wisata syariah, Sakri menyebut banyak warga yang kurang setuju karena khawatir wisata ini akan menjadi eksklusif bagi wisatawan muslim saja. Hal ini berpotensi mengurangi jumlah wisatawan yang datang ke Banyu Biru.

Sejak pandemi, wisata ini sempat ditutup selama tiga tahun dan baru dibuka kembali pada 2022. Awalnya, jumlah pengunjung cukup ramai karena masyarakat rindu berwisata. Namun, dalam setahun terakhir, jumlahnya kembali menurun.

Kini, warga dan pedagang berharap agar pemerintah daerah dapat memperbaiki fasilitas yang ada dan menambah daya tarik wisata agar Banyu Biru kembali diminati oleh wisatawan.

Advertisement

Artikel Terkait

Jalan Pahlawan Pasuruan Dipoles, 20 Lampu Baru Disiapkan Bikin Malam Makin Terang

Jalan Pahlawan Pasuruan Dipoles, 20 Lampu Baru Disiapkan Bikin Malam Makin Terang

Jalan Pahlawan Kota Pasuruan bakal makin terang. Dishub mengusulkan 20 PJU baru lewat P-APBD 2026, dengan lampu 100 watt dan sistem redup otomatis untuk menjaga efisiensi energi.

Jalan Untung Suropati Bangil Sudah Diperlebar, Markah Jalan Malah Belum Kelar

Jalan Untung Suropati Bangil Sudah Diperlebar, Markah Jalan Malah Belum Kelar

Pelebaran Jalan Untung Suropati Bangil membuat arus kendaraan lebih lega. Namun hampir setahun setelah proyek rampung, sejumlah ruas Pantura Pasuruan masih belum dilengkapi markah jalan.

Bediding di Pasuruan Mulai Mereda, Suhu Tretes Naik tapi Masih Masuk Tiga Terdingin di Jatim

Bediding di Pasuruan Mulai Mereda, Suhu Tretes Naik tapi Masih Masuk Tiga Terdingin di Jatim

Fenomena bediding di Pasuruan mulai mereda. BMKG mencatat suhu minimum Tretes naik menjadi 15 derajat Celsius dan menjadi wilayah terdingin ketiga di Jawa Timur setelah Bromo dan Kota Batu.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer