Radar Pasuruan - Banjir dan tanah longsor telah melanda sejumlah wilayah di Sumatera selama sebulan terakhir, berdampak pada tiga provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah adalah Kabupaten Aceh Tamiang.
Kisah dramatis datang dari seorang warga Aceh Tamiang yang membagikan pengalaman saat banjir hampir menenggelamkan rumah tempat ia tinggal. Melalui unggahan di media sosial, ia merekam perjuangan bertahan hidup bersama belasan orang lain ketika air terus meninggi.
Dalam keterangannya, banjir mulai masuk dan merendam rumah pada 27 November 2025 sekitar pukul 13.00 WIB. Air naik dengan cepat disertai arus deras hingga membuat mereka terjebak di lantai atas.
“Air semakin naik dengan arus yang begitu deras, kejebak di lantai 2 dengan 18 orang di kamar kos 3x3 meter,” tulis keterangan pada video yang diunggah di akun Instagram @adlionksyah pada Kamis, 25 Desember 2025.
“Pikiran udah kemana-mana, cuma bisa peluk anakku saat itu,” lanjutnya.
Seiring ketinggian air yang terus bertambah, mereka akhirnya memutuskan naik ke atap rumah meski hujan masih turun deras. Dengan perlindungan seadanya, para korban bertahan dalam kondisi ekstrem.
“Kami sebanyak 18 orang naik satu per satu ke atas atap dan hujan deras cuma bertutupkan terpal 1x2 meter,” akunya.
“Bayangin, anak bayi harus merasakan dinginnya hujan dari siang hingga ke pagi,” imbuhnya.
Video tersebut memperlihatkan warga bergantian memanjat atap, sementara air cokelat berarus deras mengalir tepat di bawah mereka. Kondisi semakin mencekam saat malam tiba dan aliran listrik terputus.
Dalam kegelapan, para korban hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Harapan mereka tertuju pada tim penyelamat yang mungkin mendengar jeritan tersebut.
“Sampai malam hari pun kami cuma bisa teriak-teriak minta tolong supaya tim SAR datang, sahut-sahutan sama korban lain, bantu kalau-kalau ada pertolongan,” tambahnya.
“Dan di momen inilah part yang palin nggak bisa dilupakan, anakku kehujanan tapi dia tidur sepanjang malam,” tuturnya.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga 26 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di tiga provinsi di Sumatera mencapai 1.135 orang.
Korban tersebar di 52 kabupaten/kota di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Selain itu, sebanyak 173 orang masih dinyatakan hilang, dan sekitar 489 ribu jiwa terpaksa mengungsi akibat kerusakan tempat tinggal. BNPB juga mencatat 157.838 rumah mengalami kerusakan. Khusus di Aceh Tamiang, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 88 orang.
Editor : Moch Vikry Romadhoni