Kepala BGN, Sudaryono, mengungkapkan bahwa proses pembangunan serta pengoperasian SPPG tersebut bakal dieksekusi tanpa harus mengajukan penambahan alokasi dana pada pagu anggaran BGN tahun 2026 yang telah ditetapkan sebesar Rp 229 triliun.
“Pembukaan ini kan juga mengandung anggaran, di mana anggaran itu kami sesuaikan. Dan insyaallah tidak perlu adanya penambahan anggaran, anggaran yang sekarang di 2026 ini insyaallah bisa kami maksimalkan tanpa ada penambahan anggaran,” ujar Sudaryono saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (28/9).
Lebih lanjut, Sudaryono memaparkan bahwa dari total 2.700 dapur MBG anyar tersebut, mayoritasnya diprioritaskan untuk menjangkau kawasan Tertinggal, Terluar, Terdepan (3T) serta wilayah-wilayah yang berada di luar pulau Jawa.
Ia menerangkan, ribuan dapur baru itu diambil dari daftar antrean SPPG yang sebelumnya telah mengantongi lampu hijau untuk beroperasi. Kendati demikian, tidak semua titik dapur yang masuk dalam daftar tunggu tersebut akan langsung dibuka serentak.
Menurut keterangannya, saat ini tercatat ada sekitar 13.000 dapur yang masih tertahan dalam daftar antrean. Pihak BGN lantas akan melakukan proses penyisiran secara teliti guna memvalidasi SPPG mana saja yang benar-benar siap beroperasi serta selaras dengan tingkat urgensi kebutuhan di masing-masing daerah.
"Ada 2.700 yang sudah siap, kemudian secara bertahap akan kami buka, termasuk juga membuka dapur-dapur yang memang di situ banyak yang membutuhkan. Ada 13.000 dapur yang dalam antrean. Nah, dalam antrean ini kami sisir," katanya.
Baca Juga: BGN Perketat Pengawasan Dapur MBG, Kepala SPPG Wajib Siaga Pukul 02.00Ia menegaskan, BGN tidak akan serta-merta membuka seluruh 13.000 dapur tersebut secara bersamaan. Titik-titik lokasi yang dinilai belum matang persiapannya atau tidak memenuhi kriteria kebutuhan mendesak akan dikeluarkan dari daftar prioritas.
"Memang tidak kemudian 13.000-nya buka semua. Ada juga yang masih titik, nah titik itu kemudian kami exclude. Mana-mana yang sudah siap itu akan kami aktivasi sesuai dengan kebutuhan yang ada di wilayah itu," ujarnya.
Langkah ekspansi pembukaan dapur MBG ini diharapkan mampu memperluas cakupan layanan program Makan Bergizi Gratis, khususnya bagi satuan pendidikan di berbagai wilayah yang sampai detik ini belum tersentuh fasilitas tersebut.
Sudaryono mengaku bahwa dirinya kerap menerima beragam aspirasi maupun permohonan dari pihak sekolah agar program MBG bisa segera diperluas ke tempat mereka. Permintaan itu disalurkan lewat pelbagai kanal komunikasi, mulai dari kiriman video, surat elektronik, surat resmi, hingga pesan langsung (direct message) di media sosial.
"Ada yang kirim video ke saya, sekolah meminta MBG-nya segera dibuka di sekolahnya. Ada yang kirim email, ada yang kirim surat, ada yang kirim DM di sosial media, itu semua kami lihat," ujarnya.
Ia menyadari bahwa di lapangan masih banyak dijumpai institusi pendidikan yang belum memperoleh jatah program Makan Bergizi Gratis, meskipun ada sekolah lain di sekitar lokasi yang telah lebih dulu menikmati fasilitas tersebut.
"Ternyata memang masih banyak juga sekolah-sekolah yang belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis, sementara sekolah di sebelahnya atau tidak jauh dari sekolah itu sudah mendapatkan MBG," pungkasnya.