Firmansyah selaku Ketua Umum KAJOL mengemukakan pandangannya bahwa penghasilan harian seorang pengemudi tidak semata-mata ditentukan oleh tinggi rendahnya besaran tarif orderan saja, melainkan turut bergantung pada kuantitas pesanan yang berhasil didapatkan oleh driver.
"Kami tentu senang kalau tarif naik. Tetapi kalau tarif terlalu mahal, pelanggan bisa mengurangi penggunaan aplikasi. Kalau order berkurang, pendapatan driver juga bisa turun, yang paling penting bagi driver adalah berapa banyak uang yang bisa dibawa pulang setelah bekerja seharian," ujar Firman, Rabu (26/8).
Berdasarkan pertimbangan tersebut, pemerintah diimbau agar jeli dan cermat menimbang berbagai sudut pandang sebelum menetapkan kebijakan aturan agar tidak sampai merugikan posisi para pengemudi ojol.
Baca Juga: Driver Ojol Bakal Dapat Perlindungan Lebih, Aturan Pengantaran Barang dan Makanan Masuk Perpres
"Jadi yang harus dilihat adalah pendapatan driver secara keseluruhan dalam sehari," imbuhnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa dinamika situasi di lapangan seringkali bersifat fluktuatif dan tidak menentu setiap harinya, di mana kerap kali dijumpai fase ketika orderan sepi pelanggan.
"Kondisi di lapangan berubah-ubah. Kadang ramai, kadang sepi. Pemerintah harus melihat kondisi ini secara langsung dan jangan hanya mendengarkan satu pihak," jelasnya.
Di samping itu, Firman menegaskan bahwa keberadaan perusahaan aplikator memegang peran krusial bagi para pengemudi sebab kelangsungan pencarian order harian sepenuhnya bertumpu pada sistem aplikasi tersebut.
"Kami sama-sama membutuhkan. Tujuan kita sama, yaitu memberikan pelayanan kepada pelanggan. Karena itu, jangan sampai ada aturan yang justru membuat salah satu pihak kesulitan untuk bertahan," pungkasnya.