BNPB Laporkan 105 Korban Jiwa Akibat Gempa Flores, Pengungsi Membengkak karena Isu Hoaks Tsunami

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:45 WIB
Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym)
Warga berjalan di dekat rumah yang rusak akibat gempa bumi di kawasan Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (18/8/2026). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/nym)
Radar Bromo - Presiden Prabowo Subianto melaksanakan peninjauan secara langsung terhadap proses penanganan dampak bencana gempa bumi yang mengguncang kawasan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Rabu (26/8).

Di sela kunjungan kerja tersebut, Prabowo mendengarkan pemaparan laporan mengenai situasi mutakhir serta progres penanganan darurat dari pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Suharyanto selaku Kepala BNPB menerangkan bahwa titik pusat gempa terletak di bagian utara Kabupaten Nagekeo, di mana guncangan hebat tersebut turut merimbas ke sejumlah daerah di Pulau Flores.

“Gempa ini episentrumnya berada di sebelah utara Nagekeo. Yang terdampak ada tujuh kabupaten, yaitu Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka,” kata Suharyanto di hadapan Prabowo.

Lebih lanjut, Suharyanto mengklarifikasi bahwa wilayah Kabupaten Flores Timur tidak termasuk dalam zona yang terdampak langsung oleh gempa, meski daerah itu tetap menghadapi ancaman bencana lain berupa erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang telah berjalan selama beberapa tahun belakangan.

Berdasarkan dokumentasi data BNPB sampai dengan hari Selasa (25/8) sore, intensitas aktivitas kegempaan di Flores tercatat telah menyentuh angka 7.259 kali sejak tanggal 15 Agustus 2026. Walaupun frekuensinya tergolong tinggi, kekuatan getaran dilaporkan terus menyusut dan nihil kejadian gempa dengan magnitudo di atas 7,7.

Di samping itu, kemunculan gempa susulan yang dirasakan langsung oleh warga terakumulasi sebanyak 143 kali, di mana khusus pada hari Rabu (26/8) ini hanya tercatat satu kali gempa susulan yang terpantau getarannya oleh masyarakat.

Menurut keterangan Suharyanto, membludaknya jumlah warga yang memilih mengungsi bukan semata-mata karena mengalami dampak kerusakan langsung, melainkan didorong rasa panik akibat susulan gempa serta paparan informasi keliru di media sosial.

“Sebetulnya jumlah pengungsi yang banyak ini bukan karena terdampak langsung, tetapi karena masyarakat ketakutan akibat gempa susulan dan isu di media sosial yang menyebut akan terjadi gempa lebih besar bahkan tsunami,” ujarnya.

Guna meredam kepanikan publik tersebut, jajaran BNPB bersama BMKG serta instansi pemerintah terkait secara aktif menyebarluaskan edukasi serta informasi yang akurat guna meluruskan berita bohong seputar potensi ancaman gempa susulan maupun tsunami.

Berdasarkan pembaruan data terakhir dari BNPB, bencana alam gempa bumi di kawasan Flores ini merenggut korban jiwa sebanyak 105 orang meninggal dunia, diiringi 1.678 korban mengalami luka-luka, serta memaksa 179.037 jiwa mengungsi.

Kerusakan fisik material juga menghantam banyak bangunan dan fasilitas umum, dengan rincian sedikitnya 81.436 unit rumah warga mengalami kerusakan serta 1.951 unit fasilitas publik yang mencakup sarana pendidikan, rumah ibadah, gedung pemerintahan, hingga infrastruktur penting lainnya.

Dari aspek konektivitas perhubungan darat, kerusakan infrastruktur jembatan sejauh ini dikategorikan ringan, kendati sejumlah titik jalur tertutup material longsor sehingga mengganggu kelancaran mobilitas menuju daerah terdampak.

Suharyanto membeberkan bahwa wilayah Kabupaten Manggarai serta Manggarai Timur memegang status sebagai daerah yang paling parah terimbas gempa, disusul Kabupaten Nagekeo di peringkat ketiga sebagai wilayah dengan tingkat kerusakan terparah.

Pemerintah pusat terus menggeber upaya penanganan secara komprehensif, termasuk memastikan jaminan pemenuhan logistik bagi para pengungsi serta mempercepat perbaikan fasilitas yang rusak.

"Penanganan juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi kegempaan yang masih berlangsung di wilayah Flores," pungkasnya.
Editor : Moch Vikry Romadhoni
Gempa NTT Gempa Flores Presiden Prabowo Subianto BNPB Suharyanto Pengungsi Gempa