Trump Ancam Kuasai Selat Hormuz, Iran Balik Tegaskan Jalur Minyak Dunia Ada di Tangan Teheran

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:01 WIB
Donald Trump (The Guardian)
Donald Trump (The Guardian)

Radar Bromo - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman untuk menetapkan Selat Hormuz sebagai “wilayah Amerika Serikat” di tengah kebuntuan upaya pemerintahannya mengakhiri perang dengan Iran.

Dilansir dari laman The Guardian pada Minggu (16/8), Trump menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidatonya di Long Island, New York, Jumat. Ia mengatakan jalur perairan strategis itu akan segera ditetapkan sebagai wilayah AS setelah Iran dikalahkan.

Pernyataan tersebut muncul ketika pembicaraan antara Washington dan Teheran belum menemukan titik temu. Di sisi lain, Selat Hormuz memiliki posisi strategis karena menjadi jalur pelayaran yang biasanya digunakan untuk mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Trump juga mengklaim bahwa Amerika Serikat telah memberlakukan blokade di Selat Hormuz. Menurut dia, kapal tidak dapat melewati jalur tersebut tanpa mendapatkan persetujuan dari pihak AS.

Namun, belum terdapat kejelasan apakah pernyataan Trump mengenai blokade tersebut merupakan kebijakan resmi baru pemerintah Amerika Serikat atau sekadar pernyataan politik yang disampaikannya dalam pidato.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran internasional yang berada di antara Iran dan Oman. Karena itu, ancaman untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai wilayah Amerika Serikat berpotensi memunculkan persoalan baru terkait status perairan internasional dan kebebasan navigasi.

Pemerintah Iran langsung menolak ancaman yang disampaikan Trump. Teheran menegaskan bahwa keputusan mengenai pembukaan maupun penutupan Selat Hormuz merupakan kewenangan Iran.

Baca Juga: Selat Hormuz Masih Ditutup, Iran Ajukan 7 Tuntutan Keras kepada Amerika Serikat

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan negaranya tidak akan tunduk terhadap ancaman ataupun pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan belum ada keputusan untuk kembali melanjutkan pembicaraan dengan pemerintah Washington.

Sebelumnya, Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum sejumlah tuntutan mereka dipenuhi oleh Amerika Serikat. Tuntutan tersebut antara lain kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang serta pencabutan sanksi terhadap Iran.

Ketegangan di sekitar jalur pelayaran strategis tersebut juga memberikan dampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat Amerika Serikat. Harga bahan bakar mengalami kenaikan sejak perang berlangsung sehingga menambah beban masyarakat.

Trump mengatakan warga Amerika Serikat perlu bersiap menghadapi kemungkinan harga bahan bakar yang lebih mahal. Menurut dia, langkah tersebut diperlukan sebagai bagian dari upaya mencegah Iran mengembangkan atau memiliki senjata nuklir.

Kebuntuan terkait masa depan Selat Hormuz kini menjadi salah satu persoalan penting dalam hubungan Washington dan Teheran. Kedua negara masih mempertahankan tuntutan masing-masing di tengah upaya mencari jalan keluar dari konflik.

Baca Juga: Bubaran Pencak Dor di Gondangwetan Berujung Gesekan Antar Kelompok di Tiga Wilayah Pasuruan Ini

Editor : Moch Vikry Romadhoni
selat hormuz amerika serikat konflik timur tengah iran donald trump