Rencana Akhiri Perang di Gaza Ditolak Netanyahu, Warga Khawatir Serangan Makin Brutal

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 16:46 WIB
Warga Palestina di Gaza menghadapi frustrasi yang semakin meningkat dan hilangnya harapan untuk fase selanjutnya (Al-Jazeera)
Warga Palestina di Gaza menghadapi frustrasi yang semakin meningkat dan hilangnya harapan untuk fase selanjutnya (Al-Jazeera)

Radar Pasuruan - Harapan berakhirnya perang di Gaza kembali dibayangi ketidakpastian setelah Israel menolak rencana 15 poin yang didukung Amerika Serikat. Warga Palestina di Gaza merespons keputusan tersebut dengan skeptisisme dan frustrasi karena khawatir konflik kembali meningkat.

Dilansir dari laman Al-Jazeera pada Rabu (12/8), rencana tersebut mencakup sejumlah langkah untuk mengakhiri perang. Di antaranya penarikan bertahap pasukan Israel, pelucutan senjata Hamas, pembentukan pemerintahan sipil yang dipimpin Palestina, serta bantuan kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana tersebut. Ia menegaskan pasukan Israel tidak akan ditarik sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.

Penolakan tersebut membuat sebagian warga Gaza kembali meragukan kemungkinan tercapainya perdamaian yang bertahan lama.

Nesma Harazin, warga Kota Gaza, mengatakan pengalaman terhadap kesepakatan gencatan senjata sebelumnya membuatnya khawatir. Menurut dia, kesepakatan terdahulu tidak mampu menghentikan serangan sehingga penolakan terbaru dikhawatirkan justru membuka jalan bagi operasi militer yang lebih besar.

Kekhawatiran serupa disampaikan Mehdi Ahmed. Setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik dan pendudukan, dia menilai setiap gencatan senjata masih berpotensi hanya berlangsung sementara.

Bagi warga Gaza, kesepakatan yang benar-benar mengakhiri perang diharapkan tidak berhenti pada penghentian sementara pertempuran. Mereka menginginkan penarikan pasukan Israel, penghentian serangan, pembangunan kembali wilayah yang hancur, serta kepulangan warga yang terpaksa mengungsi.

Sementara itu, Ramez Haniyeh melihat rencana 15 poin tersebut sebagai peluang untuk menghentikan pertempuran dan mengurangi penderitaan masyarakat Gaza. Haniyeh sendiri kehilangan rumah dan kini mengungsi ke Nuseirat.

Baca Juga: Israel Gempur Gaza Lagi, 18 Warga Palestina Tewas di Tengah Harapan Gencatan Senjata

Meski demikian, dia juga mencemaskan dampak penolakan Israel. Menurutnya, keputusan tersebut berisiko memicu eskalasi baru yang dapat semakin memperburuk kondisi kemanusiaan dan ekonomi masyarakat Gaza.

Di tengah penolakan tersebut, Hamas menyatakan tetap berkomitmen menjalankan rencana yang telah diusulkan. Hamas juga meminta negara-negara mediator dan penjamin mengambil tanggung jawab untuk memastikan proses negosiasi tetap berjalan.

Kantor Media Pemerintah Gaza turut menilai penolakan Netanyahu sebagai kemunduran dalam proses perundingan. Mereka menyerukan adanya tekanan internasional untuk mencegah konflik kembali meningkat.

Meski peluang berakhirnya perang masih diragukan, sejumlah warga Gaza mengaku tetap mempertahankan harapan. Namun, setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik, mereka juga pesimistis perang dapat benar-benar berakhir dalam waktu dekat.

Baca Juga: Jemaah Haji Nonkuota Diminta Waspada, Menhaj Tegas Larang Janji Berangkat Tanpa Visa

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Benjamin Netanyahu perang Gaza Israel palestina gaza