Karhutla Makin Meluas, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ditutup Sementara

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 16:26 WIB
Petugas gabungan berjibaku memadamkan karhutla di kawasan Gunung Bromo, Kamis (6/8). (Dokumentasi BPBD Probolinggo)
Petugas gabungan berjibaku memadamkan karhutla di kawasan Gunung Bromo, Kamis (6/8). (Dokumentasi BPBD Probolinggo)

Radar Pasuruan – Pemerintah menutup sementara seluruh kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) sejak Minggu (9/8) menyusul kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan konservasi tersebut. Penutupan dilakukan untuk memaksimalkan proses pemadaman sekaligus memastikan keselamatan masyarakat di tengah kondisi kebakaran.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan keputusan tersebut saat meninjau langsung lokasi karhutla pada Minggu. Ia telah menginstruksikan kepala balai untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas di kawasan TNBTS.

"Saya sudah instruksikan kepala balai untuk menutup sementara secara total Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS)," kata Raja Juli saat meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Raja Juli, penutupan kawasan diperlukan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat difokuskan untuk menangani kebakaran. Berdasarkan perkiraan sementara, area yang terdampak karhutla mencapai sekitar 520 hektare.

Selain mempercepat proses pemadaman, keputusan menutup TNBTS juga berkaitan dengan faktor keselamatan. Pemerintah tidak ingin aktivitas masyarakat di kawasan tersebut justru menambah risiko di tengah kondisi kebakaran.

"Tujuannya satu agar semua bisa fokus memadamkan api dan semua mengantisipasi kemungkinan terjadi kebakaran di tempat-tempat lain, yang kedua juga soal safety first, tidak mau mempertaruhkan warga negara karena bencana ini," ucapnya.

Raja Juli menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada titik api yang saat ini terbakar. Pemerintah juga harus mempersiapkan langkah antisipasi mengingat potensi kebakaran masih dapat muncul dalam beberapa bulan ke depan.

Untuk memperkuat koordinasi di lapangan, pemerintah membentuk struktur incident commander. Struktur tersebut dibuat agar pembagian tugas, kebutuhan operasional, hingga berbagai kendala selama proses pemadaman dapat ditangani secara lebih terarah.

Baca Juga: Padamkan Titik Rambatan Api di TNBTS Bromo yang Sudah Merembet ke Probolinggo

“Kita juga sudah rapat untuk membuat incident commander. Jadi dibuat struktur supaya pekerjaan ini lebih teratur, lebih rapi, lebih terstruktur, semua kebutuhan, tantangan bisa dikoordinasikan sehingga pemadaman ini akan bisa lebih baik,” ujarnya.

Dengan adanya struktur koordinasi tersebut, seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pemadaman diharapkan dapat bekerja dalam satu pola. Pemerintah juga memastikan berbagai kebutuhan dan persoalan di lapangan dapat segera dikoordinasikan.

Raja Juli menyatakan penanganan kebakaran akan terus dilakukan sampai kondisi benar-benar aman. Penggunaan metode pemadaman, termasuk water bombing, juga akan terus dilakukan hingga api dinyatakan padam dan kawasan kembali dapat beroperasi.

“Insya Allah sampai padam, sampai semua bisa beroperasi lagi baru nanti water bombing-nya berhenti,” jelasnya.

Lebih lanjut, Raja Juli menyebut penanganan karhutla di TNBTS dilakukan berdasarkan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi peningkatan ancaman kebakaran akibat kondisi cuaca.

Menurutnya, pemerintah akan mengerahkan upaya maksimal untuk menghadapi ancaman El Nino yang disebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di berbagai wilayah.

“Secara nasional Presiden Prabowo Subianto sudah memberikan arahan yang sangat jelas. Artinya pemerintah all out untuk mengantisipasi El Nino yang sering disebut sebagai El Nino Godzilla ini,” pungkasnya.

Baca Juga: Laporan Dugaan Pelanggaran Etik Hakim PN Balikpapan Mengendap di KY, Kuasa Hukum PT Duta Manuntung Desak Transparansi

Editor : Moch Vikry Romadhoni
el nino bromo tengger semeru Raja Juli Antoni karhutla tnbts