Iran Klaim Tembak Jatuh Drone Tempur AS di Selat Hormuz, Kerugian Pentagon Disebut Tembus Rp 16 Triliun

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 19:03 WIB
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL).
Ilustrasi Drone MQ-9 Reaper. (GENERAL ATOMICS AERONAUTICAL).

Radar Pasuruan - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh satu unit drone tempur MQ-9 Reaper milik Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz menggunakan sistem pertahanan udara yang disebut berteknologi modern. Jika klaim tersebut terbukti, insiden ini menjadi pukulan terbaru bagi armada drone andalan militer Amerika Serikat di tengah memanasnya konflik dengan Iran.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, IRGC menyebut operasi dilakukan oleh pasukan kedirgantaraannya. Media resmi IRGC, Sepah News, juga mengonfirmasi insiden tersebut dan menyatakan rincian lebih lanjut akan diumumkan kemudian.

Klaim ini menambah daftar panjang drone MQ-9 Reaper yang disebut telah dihancurkan Iran sejak konflik dengan Amerika Serikat meningkat pada akhir Februari.

Berdasarkan laporan Bloomberg, Iran diklaim telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone MQ-9 Reaper selama konflik berlangsung. Jumlah tersebut disebut setara dengan hampir 20 persen dari total armada drone MQ-9 yang dimiliki Pentagon sebelum perang pecah.

Dengan nilai sekitar USD 30 juta per unit, total kerugian akibat kehilangan drone tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD 1 miliar.

Laporan yang sama, mengutip keterangan di Kongres Amerika Serikat dan data dari The War Zone, menyebut armada operasional MQ-9 Reaper Angkatan Udara AS kini hanya tersisa sekitar 135 unit. Angka itu berada di bawah kebutuhan minimum yang diperkirakan mencapai 189 unit.

Selain itu, kemampuan untuk mengganti armada juga dinilai terbatas. General Atomics sebagai produsen MQ-9 Reaper disebut hanya memiliki kurang dari 10 unit yang masih tersedia, sementara lini produksi MQ-9A telah dihentikan.

IRGC juga mengklaim telah mendokumentasikan penghancuran 41 hingga 42 unit MQ-9 Reaper yang ditembak jatuh saat beroperasi di wilayah Iran, Teluk Persia, maupun di pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Kian Memuncak, Trump Klaim Amerika Akan Jaga Selat Hormuz

Dalam operasi balasan yang mereka sebut Operation Nasr-2, IRGC mengaku menghancurkan delapan unit MQ-9 Reaper yang masih berada di dalam kontainer di Pangkalan Udara King Faisal, Yordania, beserta sejumlah pesawat lain yang berada di landasan.

Di sisi lain, pejabat militer Amerika Serikat mengakui kebutuhan mendesak untuk menambah armada drone tersebut.

"Kami sedang menjajaki opsi untuk memperoleh sebanyak mungkin pesawat MQ-9A saat ini," kata Letnan Jenderal Angkatan Udara AS David Tabor kepada Kongres, mengakui perlunya segera mengisi kembali armada drone yang terus berkurang.

MQ-9 Reaper selama ini menjadi salah satu aset utama militer Amerika Serikat dalam menjalankan misi intelijen, pengawasan, dan serangan presisi di berbagai kawasan konflik. Namun, drone tersebut dinilai semakin rentan menghadapi sistem pertahanan udara berlapis yang dikembangkan Iran.

Salah satu sistem yang disebut efektif adalah interceptor 358, pencegat buatan Iran yang juga dilaporkan digunakan kelompok Ansarullah di Yaman untuk menembak jatuh hampir 30 unit MQ-9 Reaper sejak 2023.

Sejumlah pejabat militer Amerika Serikat juga mengakui kemampuan bertahan MQ-9 Reaper di wilayah dengan ancaman pertahanan udara tinggi kini menjadi perhatian serius, meski drone tersebut masih memegang peran penting dalam operasi intelijen, pengawasan, dan serangan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Harga Telur Anjlok, Kementan Minta Program MBG Wajib Serap Sesuai Harga Acuan

Editor : Moch Vikry Romadhoni
selat hormuz IRGC MQ-9 Reaper amerika serikat iran