Radar Pasuruan - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap maraknya penyebaran hoaks terkait aksi demonstrasi yang beredar di media sosial menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia. Di sisi lain, media massa didorong terus menyajikan informasi yang cepat, akurat, dan berimbang guna mencegah meluasnya disinformasi.
Menurut Meutya, informasi yang benar dan disampaikan tepat waktu menjadi salah satu langkah penting untuk menutup ruang penyebaran narasi palsu yang dapat memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Teman-teman media silakan meliput dan memberitakan yang benar dengan cepat agar tidak memberi ruang kepada disinformasi yang masuk," kata Menkomdigi Meutya Hafid di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Senin (3/8).
Menjelang peringatan HUT RI, berbagai video aksi demonstrasi kembali ramai beredar di sejumlah platform media sosial. Namun, banyak unggahan tersebut tidak mencantumkan waktu maupun konteks kejadian sehingga menimbulkan anggapan seolah-olah peristiwa itu baru saja terjadi.
Tak sedikit pula unggahan yang disertai narasi seakan-akan terjadi demonstrasi besar yang tidak diberitakan media. Bahkan, muncul klaim bahwa informasi mengenai aksi tersebut sengaja dihapus atau dibatasi penyebarannya.
Meutya menjelaskan, penyebaran hoaks kini dilakukan dengan berbagai cara. Selain membuat informasi palsu, pelaku juga memanfaatkan video lama maupun rekaman dari luar negeri yang kemudian diklaim sebagai kejadian di Indonesia.
"Teman-teman harus melihat videonya. Ada yang betul-betul hoaks karena kejadiannya tidak pernah ada. Ada yang menggunakan gambar lama dengan konteks yang berbeda. Ada pula yang menggabungkan kejadian di negara lain seolah-olah terjadi di Indonesia," jelasnya.
Baca Juga: Edarkan Hoaks Demi Bayaran, Sindikat Buzzer Kantongi Rp220 Juta hingga Dibekuk Polisi
Meutya menilai media massa memiliki peran penting dalam menjaga kualitas informasi publik melalui proses verifikasi dan pemberitaan yang berbasis fakta. Informasi yang akurat dan cepat, menurutnya, dapat mengurangi peluang berkembangnya narasi palsu yang sengaja disebarkan untuk memicu keresahan.
"Informasi yang benar adalah tanggung jawab bersama. Media memiliki peran penting untuk memastikan masyarakat mendapatkan fakta, bukan informasi yang sengaja dibuat untuk menimbulkan ketakutan," ujar Meutya.
Selain mengajak media tetap menjalankan fungsi jurnalistik secara profesional, Meutya juga meminta masyarakat lebih cermat sebelum mempercayai maupun membagikan video aksi demonstrasi yang beredar di media sosial.
Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah video yang kembali viral diketahui merupakan rekaman lama yang diunggah ulang tanpa disertai penjelasan mengenai waktu maupun konteks kejadian. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menyesatkan publik dan membentuk persepsi yang keliru.
Meutya menegaskan bahwa penyebaran informasi palsu tidak hanya berdampak pada ruang digital, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat dalam mengambil keputusan sehari-hari.
"Penyebaran informasi palsu bukan hanya persoalan konten digital. Karena informasi hoaks itu berdampak pada keputusan orang per orang dari hari per hari. Ada yang jadi takut keluar, ada yang khawatir ketika bekerja. Menurut saya hal itu tidak tepat, tidak benar, dan mencederai nilai-nilai demokrasi serta semangat nasionalisme di momen peringatan Hari Kemerdekaan,” papar Meutya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat bersama media untuk menjaga ruang digital tetap sehat dengan hanya menyebarkan informasi yang telah terverifikasi. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks maupun disinformasi.
"Maka saya mengimbau, jangan menyebarkan informasi palsu dengan tujuan membuat ketakutan di tengah masyarakat menggunakan data yang tidak benar,” tegas Meutya.
Baca Juga: Isu Pelarangan Liputan Demo Dibantah, Meutya Tegaskan Tak Pernah Larang Media Liput Aksi Demo
Editor : Moch Vikry Romadhoni