Respons Pernyataan Prabowo, Kedubes Iran Tegaskan Tak Pernah Kejar Senjata Nuklir

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:27 WIB
Presiden Prabowo Subianto . (Istimewa)
Presiden Prabowo Subianto . (Istimewa)

Radar Pasuruan – Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia memberikan tanggapan resmi atas pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung potensi perlombaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah. Melalui akun X resminya, Kedubes Iran menegaskan bahwa program nuklir negaranya hanya diperuntukkan bagi kepentingan damai dan tidak pernah diarahkan untuk pengembangan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Prabowo mengungkap kekhawatiran bahwa isu kepemilikan senjata nuklir oleh Iran dapat memicu negara-negara lain di kawasan untuk mengambil langkah serupa.

Dalam klarifikasinya, Kedubes Iran menyatakan Republik Islam Iran tidak pernah memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir.

"The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya," tulis Kedubes Iran melalui akun X resminya.

Pernyataan itu sekaligus membantah berbagai spekulasi yang selama ini berkembang mengenai program nuklir Iran.

Kedubes Iran menjelaskan bahwa seluruh aktivitas nuklir negaranya dilakukan sesuai ketentuan hukum internasional dan berada dalam kerangka Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT).

Menurut Iran, sebagai negara anggota NPT, mereka memiliki hak untuk memanfaatkan energi nuklir bagi kepentingan damai.

"Berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), menjalankan hak atas pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional."

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi, Harapan Damai AS-Iran Belum Mampu Redakan Kekhawatiran Pasar

Iran juga menegaskan seluruh fasilitas nuklirnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Menerapkan salah satu rezim inspeksi nuklir paling ketat di dunia. Tidak ditujukan untuk pengembangan senjata nuklir."

Dalam pernyataan yang sama, Kedubes Iran menyebut kepemilikan senjata nuklir bertentangan dengan prinsip pertahanan negaranya. Iran mengacu pada fatwa Pemimpin Republik Islam Iran yang mengharamkan penggunaan maupun kepemilikan senjata nuklir.

"Fatwa Pemimpin Syahid Republik Islam Iran mengharamkan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran. Teknologi nuklir dimanfaatkan bagi kepentingan energi, kesehatan, dan penelitian."

Sebagai penegasan, Kedubes Iran kembali menyatakan bahwa program nuklir negaranya dijalankan secara transparan dan semata-mata untuk kepentingan damai.

"Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya," demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kekhawatirannya terhadap meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah saat menghadiri pertemuan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari 38 provinsi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7).

"Tiap sore, tiap malam dalam berita-berita eskalasi, eskalasi, eskalasi," kata Prabowo.

Ia kemudian menyinggung kemungkinan munculnya efek domino apabila negara-negara di kawasan mulai mengembangkan senjata nuklir.

"Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (UEA) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir," ujar Prabowo.

Pidato tersebut menjadi perhatian publik setelah siaran langsung acara sempat terputus sesaat ketika Presiden membahas isu nuklir. Tayangan kemudian berganti ke iklan sebelum akhirnya dihentikan.

Baca Juga: Spider-Man: Brand New Day Pecahkan Rekor Box Office dengan Rp 5,3 Triliun

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Nuklir Iran iran Prabowo Subianto timur tengah IAEA