Harga Minyak Dunia Melonjak Lagi, Harapan Damai AS-Iran Belum Mampu Redakan Kekhawatiran Pasar

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 18:12 WIB
Ilustrasi minyak mentah dunia.
Ilustrasi minyak mentah dunia.

Radar Pasuruan - Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (29/7) setelah sehari sebelumnya mengalami penurunan tajam. Kenaikan dipicu harapan pasar terhadap peluang terbukanya jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, meski ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah masih membayangi.

Berdasarkan data Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,02 dolar AS atau 3,70 persen menjadi 84,86 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 3,03 dolar AS atau 3,82 persen ke level 82,35 dolar AS per barel.

Meski harga kembali menguat, pelaku pasar masih berhati-hati karena penghentian serangan yang terjadi sebelumnya dinilai belum mampu mengakhiri konflik yang memengaruhi pasokan minyak dunia.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah dinilai masih tinggi lantaran belum ada penyelesaian atas sengketa yang berdampak pada efektif tertutupnya Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Di sisi lain, Iran membantah tengah melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut berbeda dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut komunikasi dengan Teheran berjalan positif.

"Pasar memahami situasinya masih kacau dan harga diperdagangkan lebih rendah karena kedua pihak yang bertikai, yaitu AS dan Iran, tidak saling menyerang dalam beberapa hari terakhir," ujar Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger.

Sementara itu, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, menyatakan Presiden Donald Trump memutuskan menghentikan sementara serangan militer guna memberikan ruang lebih besar bagi upaya diplomasi.

"Harapan semakin besar bahwa jalur diplomatik yang nyata mulai terbuka. Kembali ke nota kesepahaman (MoU) 14 poin dengan kejelasan yang lebih baik mengenai pengendalian Selat Hormuz akan menjadi langkah awal yang baik," tulis analis pasar IG Tony Sycamore dalam catatannya yang dikutip Reuters, Senin (27/7).

Baca Juga: Harga Minyak Tembus USD 100 per Barel, Menkeu Pastikan APBN Tetap Aman

Meskipun muncul optimisme terhadap jalur diplomasi, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz belum kembali normal. Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan kurang dari 10 kapal pengangkut komoditas melintasi kawasan tersebut setiap hari selama akhir pekan.

Kondisi serupa juga terjadi di Selat Bab el-Mandeb. Lalu lintas kapal menurun setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas minyak Arab Saudi di pesisir Laut Merah. Meski demikian, sebuah supertanker ketiga asal China dilaporkan berhasil melewati jalur tersebut.

"Pemulihan arus pelayaran melalui Selat Hormuz kemungkinan akan berlangsung lambat dan hanya sebagian, karena banyak perusahaan pelayaran masih berhati-hati dan membutuhkan keyakinan lebih besar terhadap keamanan sebelum kembali mengirim lebih banyak kapal kosong ke selat tersebut," ujar Analis MST Marquee, Saul Kavonic.

Baca Juga: Kabar Menggembirakan! Dua Anak Harimau Sumatra di Kerinci Seblat Tumbuh Sehat hingga Remaja

Editor : Moch Vikry Romadhoni
harga minyak dunia selat hormuz Brent WTI Amerika Serikat dan Iran