Radar Pasuruan - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat perkembangan menggembirakan dalam upaya pelestarian Harimau Sumatra di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, Sumatera Barat.
Hasil pemantauan menggunakan kamera jebak (camera trap) memperlihatkan dua anak Harimau Sumatra yang pertama kali terdokumentasi pada September 2025 kembali terekam sepanjang 2026 dalam kondisi sehat dan terus menunjukkan pertumbuhan yang baik.
Temuan tersebut menjadi indikator bahwa proses reproduksi Harimau Sumatra masih berlangsung secara alami di habitatnya. Keberhasilan kedua anak harimau bertahan hidup hingga memasuki fase remaja juga menjadi bukti kawasan konservasi masih mampu mendukung kelangsungan hidup satwa endemik yang berstatus kritis tersebut.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, mengatakan hasil pemantauan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi dan hutan penyangga secara berkelanjutan melalui kerja sama berbagai pihak.
"Setiap anak harimau yang berhasil tumbuh dan bertahan hidup di alam liar adalah harapan bagi masa depan konservasi Indonesia. Kementerian Kehutanan akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor agar Harimau Sumatra tetap menjadi bagian dari kekayaan alam Indonesia untuk generasi mendatang," kata Satyawan dalam keterangannya, Kamis (29/7).
Pemantauan dilakukan oleh tim Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Taman Nasional Kerinci Seblat bersama Yayasan Konservasi Hutan Harimau. Kamera jebak dipasang di sejumlah titik strategis untuk mendokumentasikan aktivitas satwa liar di bentang alam Kerinci Seblat.
Tim peneliti memastikan individu yang terekam sepanjang 2026 merupakan harimau yang sama dengan dokumentasi September 2025. Kepastian tersebut diperoleh melalui identifikasi pola loreng pada tubuh masing-masing harimau yang bersifat unik sehingga dapat dijadikan identitas setiap individu.
Menurutnya, pemantauan jangka panjang menjadi bagian penting dalam memperoleh data ilmiah mengenai kondisi populasi Harimau Sumatra di alam liar. Selain mengetahui jumlah individu, metode ini juga mampu memberikan informasi mengenai keberhasilan reproduksi, tingkat kelangsungan hidup anak harimau, hingga dinamika populasi di habitatnya.
Baca Juga: Ini Fakta Mengejutkan! Rafflesia Hasseltii, Si Cantik Berpola Harimau yang Langka!
Di balik kabar positif tersebut, Harimau Sumatra masih menghadapi berbagai ancaman serius. Perburuan liar, pemasangan jerat, kerusakan habitat, hingga konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan dalam upaya pelestarian spesies ini.
Karena itu, Kementerian Kehutanan terus memperkuat berbagai langkah konservasi melalui peningkatan patroli pengamanan kawasan, penegakan hukum terhadap kejahatan tumbuhan dan satwa liar, pemantauan populasi berbasis sains, serta pemberdayaan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan.
Satyawan menegaskan keberhasilan pemantauan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang secara konsisten mendukung perlindungan Harimau Sumatra beserta habitat alaminya.
"Masyarakat pun diajak untuk terus menjaga kelestarian hutan sebagai rumah bagi Harimau Sumatera dan berbagai satwa endemik Indonesia, sehingga generasi baru satwa langka tersebut dapat terus bertahan di alam liar sebagai bagian dari kekayaan hayati nasional," pungkasnya.
Baca Juga: Bakom RI Tanggapi Kabinet Bayangan, Pemerintah Tak Keberatan Asal Kritik Berbasis Data
Editor : Moch Vikry Romadhoni