Konflik Timur Tengah Kian Membara, Houthi Hujani Arab Saudi dengan Rudal

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 17:23 WIB
Ilustrasi milisi bersenjata di Yaman, Houthi, yang didukung Iran. (Al-Jazeera)
Ilustrasi milisi bersenjata di Yaman, Houthi, yang didukung Iran. (Al-Jazeera)

Radar Pasuruan - Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke Kota Jizan, Arab Saudi, pada Sabtu (25/7) waktu setempat. Aksi tersebut disebut sebagai balasan atas operasi militer Riyadh di Yaman dan menjadi sinyal meluasnya konflik Timur Tengah yang kini menyeret semakin banyak negara.

Ketegangan kawasan tidak lagi hanya melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Dalam beberapa hari terakhir, konflik turut merembet ke Arab Saudi, Laut Merah, Teluk Oman, Bahrain, Irak, Yordania, hingga Kuwait.

Mengutip Guardian, Houthi menyatakan serangan ke Jizan dilakukan sebagai respons atas serangan udara Arab Saudi yang sehari sebelumnya menghantam sejumlah fasilitas militer mereka, termasuk pangkalan angkatan laut di Hodeida dan kamp militer di Pulau Kamaran.

Sebelumnya, kelompok tersebut telah memperingatkan bahwa serangan Arab Saudi merupakan "eskalasi berbahaya" dan menegaskan tindakan itu "tidak akan dibiarkan tanpa balasan".

Operasi militer Riyadh dilakukan setelah Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan menyerang sejumlah kapal komersial di Laut Merah. Pemerintah Arab Saudi menyebut langkah tersebut bertujuan menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.

Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki al-Maliki, mengatakan kelompok Houthi telah mengancam stabilitas pelayaran di kawasan.

"Militer teroris Houthi menargetkan kapal-kapal komersial di Laut Merah," kata Turki al-Maliki melalui akun X.

Baca Juga: Iran Kembali Gempur Pangkalan Militer AS di Arab Saudi, Timur Tengah Terancam Memanas Lagi

Ia menambahkan koalisi telah menyelesaikan operasi militer sebagai respons atas ancaman tersebut.

"Koalisi melaksanakan respons yang tegas dan kuat dengan menargetkan lokasi militer Houthi yang digunakan untuk mengancam pelayaran di Laut Merah, dan respons militer kini telah selesai," ujarnya.

Sebelum serangan rudal ke Jizan, Houthi juga mengklaim telah menyerang dua kapal Arab Saudi dalam sepekan terakhir. Riyadh mengonfirmasi salah satu kapalnya menjadi sasaran serangan di Laut Merah.

Eskalasi terbaru turut memperluas wilayah yang terdampak konflik. Iran masih menerapkan blokade di Selat Hormuz, jalur strategis ekspor minyak dunia yang menjadi akses penting bagi Arab Saudi.

Di Teluk Oman, militer Amerika Serikat melumpuhkan kapal tanker M/T Lavine setelah kapal tersebut beberapa kali mencoba menerobos blokade menuju pelabuhan Iran. Washington menyebut awak kapal telah diperingatkan sebelum pasukan AS menembak ruang mesin kapal.

Sementara itu, di Irbil, Irak utara, pasukan pimpinan Amerika Serikat dilaporkan berhasil menembak jatuh lima drone bermuatan bahan peledak yang mengarah ke pangkalan militer mereka.

Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Udairi, Kuwait, serta menargetkan menara pengawas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Hingga kini, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.

Bahrain dan Yordania juga menyatakan telah mencegat sejumlah serangan udara yang dilancarkan Iran pada Jumat.

Di tengah meningkatnya eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan belum mengambil keputusan terkait kemungkinan melancarkan operasi militer besar terhadap Iran.

"Belum. Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius dari hari ke hari, mungkin karena alasan yang sudah jelas," kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

Pernyataan itu muncul setelah beredar laporan bahwa Trump menggelar pertemuan dengan para penasihat senior untuk membahas opsi operasi militer terhadap Iran.

Trump juga membantah kabar yang menyebut Rusia dan Tiongkok membantu Iran melalui dukungan intelijen dalam menghadapi Amerika Serikat.

"Saya bisa katakan Presiden Xi mengatakan dia tidak akan ikut terlibat, dan Presiden Putin mengatakan hal yang sama. Saya rasa kalian tahu saya mempercayai mereka. Saya tidak berpikir mereka ingin membuat saya kecewa," ucap Trump.

Dengan Houthi kembali menyerang wilayah Arab Saudi dan ketegangan meluas ke sejumlah kawasan strategis di Timur Tengah, situasi keamanan regional diperkirakan masih berpotensi berkembang dalam beberapa waktu ke depan.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Houthi iran donald trump timur tengah arab saudi