Radar Pasuuan - Iran menyatakan telah meningkatkan kewaspadaan setelah mendeteksi bertambahnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan pemerintah Iran telah memahami langkah-langkah yang dilakukan Washington dan menyiapkan respons sesuai perkembangan situasi di lapangan.
"Amerika terus-menerus membawa peralatan militer baru ke kawasan ini dan mengeklaim mereka mencoba menghentikan perang... Kami telah memahami sifat permainan AS, dan kami telah bersiap sesuai dengan itu," tulis Ghalibaf di X.
Sebelumnya, Washington Post melaporkan bahwa Amerika Serikat tengah mempersiapkan operasi militer dalam skala besar terhadap Iran. Laporan tersebut juga menyebut Washington memperkuat penempatan aset militernya di kawasan Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai negaranya saat ini berada dalam situasi yang setara dengan perang berskala penuh.
Pernyataan itu muncul setelah hubungan kedua negara kembali memburuk meski sebelumnya sempat tercapai kesepakatan untuk menghentikan konflik.
Baca Juga: AS Tambah Kekuatan di Israel! Armada Pesawat Tanker Membengkak, Sinyal Serangan Besar ke Iran?
Pada malam 18 Juni, Teheran dan Washington menandatangani memorandum yang mengatur penghentian konflik yang dimulai sejak 28 Februari. Namun, sejak 8 Juli, pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan beberapa serangan terhadap wilayah Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, militer Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Teheran sudah tidak lagi berlaku.
Rangkaian aksi saling serang tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi meluasnya konflik di Timur Tengah. Hingga kini, belum ada tanda-tanda kedua negara akan kembali membuka jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat.
Editor : Moch Vikry Romadhoni