Program E20 Ditargetkan Jalan Januari 2028, ESDM Andalkan Tebu hingga Tongkol Jagung

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 19:13 WIB

 

BBM campuran Bioetanol 5%. (dok. Holopis)
BBM campuran Bioetanol 5%. (dok. Holopis)

Radar Pasuruan - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan implementasi bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran bioetanol 20 persen atau E20 mulai berlaku pada Januari 2028. Program tersebut disiapkan sebagai bagian dari pengembangan energi baru dan terbarukan di Indonesia.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan penerapan E20 akan disesuaikan dengan kemampuan produksi etanol di dalam negeri, terutama dari sektor pertanian.

"Pokoknya 20 persen (E20) di Januari 2028. Tetapi disesuaikan dengan kemampuan lokal," ujar Eniya di sela Pekan Riset Sawit 2026 di Jakarta, Senin (20/7).

Menurutnya, pemerintah akan menerapkan skema mandatori seperti yang telah diterapkan pada program biodiesel. Dalam pelaksanaannya, badan usaha, termasuk sektor swasta, akan dilibatkan untuk mendukung penyediaan bioetanol.

Karena itu, pemerintah mendorong perusahaan swasta membangun pabrik bioetanol guna memenuhi kebutuhan bahan baku program E20.

"Itu segera semua swasta juga kita akan modelkan mandatori seperti biodiesel. Jadi swasta itu boleh dan sangat kita dorong untuk dia bisa menghasilkan pabrik-pabrik itu," katanya.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Turun Tajam ke USD 83,45 per Barel, ESDM Ungkap Penyebabnya

Eniya menjelaskan, pembangunan fasilitas produksi bioetanol bukan menjadi kendala utama karena dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Tantangan terbesar justru terletak pada ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan.

Pemerintah telah mengidentifikasi sejumlah sumber bahan baku potensial, antara lain molases atau produk samping industri gula tebu, singkong varietas mukibat yang tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, serta limbah tongkol jagung.

Menurut Eniya, peningkatan produksi komoditas tersebut akan berdampak langsung terhadap ketersediaan bioetanol nasional.

"Semakin banyak kita memproduksi gula maka semakin banyak bioetanol yang dihasilkan. Begitu juga semakin banyak produksi jagung, semakin besar potensi bioetanol yang bisa kita peroleh," ungkapnya.

Melalui program E20, pemerintah berharap pemanfaatan energi terbarukan di sektor transportasi semakin meningkat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta mendorong nilai tambah hasil pertanian dalam negeri.

Baca Juga: Manajer Profesional Belum Masuk Kopkel Merah Putih, Operasional Masih Ditangani Dua Karyawan

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Energi Terbarukan Bioetanol E20 esdm bbm