Manajer Profesional Belum Masuk Kopkel Merah Putih, Operasional Masih Ditangani Dua Karyawan

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 19:05 WIB

 

Aktivitas Koperasi Merah Putih Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan/(Dimas Choirul/Jawapos.com)
Aktivitas Koperasi Merah Putih Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan/(Dimas Choirul/Jawapos.com)

Radar Pasuruan - Rencana penempatan manajer profesional di jaringan Koperasi Merah Putih belum diterapkan secara menyeluruh. Hingga kini, Koperasi Kelurahan (Kopkel) Merah Putih Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengaku belum menerima arahan terkait penunjukan manajer untuk mengelola operasional gerai.

Salah seorang karyawan Kopkel Merah Putih Melawai, Eno, mengatakan informasi yang diterimanya menyebutkan penempatan manajer profesional saat ini masih diprioritaskan bagi Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.

"Oh nah itu kemarin saya sempat nanya sama ketua ya, itu katanya kalau yang manajer itu hanya untuk Kopdes. Kalau untuk Kopkel sendiri itu belum ada, belum ada arahan sih apakah akan ada manajer atau tidak," ujar Eno, Senin (20/7).

Menurutnya, perhatian pemerintah saat ini lebih difokuskan pada pengembangan koperasi di tingkat desa dibanding koperasi yang berada di wilayah kelurahan.

"Iya, makanya yang difokuskan itu Kopdesnya," katanya.

Baca Juga: Kemenkop Mulai Latih Puluhan Ribu Calon Manajer Kopdes Merah Putih, Siap Kelola Distribusi Subsidi

Meski belum memiliki manajer profesional, kegiatan operasional Kopkel Merah Putih Melawai tetap berjalan. Saat ini gerai tersebut hanya dikelola oleh dua orang karyawan yang merupakan warga setempat.

Eno mengaku dirinya tidak memiliki latar belakang di bidang ritel. Sebelum bekerja di koperasi, ia pernah bekerja di bagian pergudangan.

Kopkel Merah Putih Melawai diketahui telah beroperasi sejak akhir Juli tahun lalu. Menurut Eno, koperasi masih mampu bertahan karena tetap memperoleh keuntungan dari aktivitas usaha yang dijalankan.

"Jadi kalau dibilang untuk bertahan, sejauh ini ya mungkin bertahan karena memang kita ada keuntungan sendiri," ujarnya.

Dari sisi penjualan, omzet harian koperasi berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta pada hari biasa. Nilai tersebut dapat meningkat ketika akhir pekan seiring bertambahnya jumlah pembeli.

Eno juga membenarkan informasi mengenai keuntungan bersih koperasi yang disebut hanya sekitar Rp78 ribu. Menurutnya, angka tersebut merupakan laba bersih setelah seluruh biaya operasional dikurangi.

"Sebenarnya itu lebih ke yang keuntungan secara bersih sih. Jadi kayak sudah dipotong sama biaya operasional lain-lainnya," jelasnya.

Meski masih beroperasi dengan sumber daya yang terbatas, pengelola berharap pengembangan program Koperasi Merah Putih ke depan juga mencakup koperasi tingkat kelurahan, termasuk terkait dukungan sumber daya manusia profesional.

Baca Juga: Praperadilan Roy Suryo Ditolak, Polda Metro Pastikan Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Tetap Berjalan

Editor : Moch Vikry Romadhoni
kementerian koperasi Kopkel Merah Putih Koperasi Kelurahan Koperasi Merah Putih umkm