Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Usai Tertekan, Harga Ayam dan Telur Mulai Bangkit Efek Program Makan Bergizi Gratis

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 15 Juli 2026 | 18:34 WIB
Ilustrasi penjual telut ayam. (Istimewa)
Ilustrasi penjual telut ayam. (Istimewa)

Radar Pasuruan - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto mulai memberikan dampak positif terhadap sektor peternakan unggas. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga ayam broiler dan telur ayam di tingkat peternak mulai berangsur naik setelah sebelumnya mengalami penurunan.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan kenaikan harga tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan seiring dimulainya kembali program MBG dan berakhirnya bulan Suro yang sebelumnya menekan konsumsi masyarakat.

"Kalau data kami dan juga bertanya ke teman-teman peternak, relatif sudah mulai merangkak. Jadi MBG itu ada pengaruhnya dan sekarang telah melewati bulan Suro, sekaligus juga mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini merangkak sudah mulai naik," ungkap Ketut di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (15/7).

Data Bapanas menunjukkan harga ayam broiler di tingkat peternak meningkat 4,11 persen dalam sepekan. Per 14 Juli, rata-rata harga ayam hidup mencapai Rp21.736 per kilogram, naik dari Rp20.878 per kilogram pada pekan sebelumnya.

Meski demikian, harga ayam di sejumlah daerah masih bervariasi. Di Sumatera Selatan, harga ayam broiler tercatat sekitar Rp18.125 per kilogram berat hidup. Sementara di Riau, harga sudah mencapai Rp25.600 per kilogram, bahkan melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp25.000 per kilogram.

Baca Juga: Telur Retak dan Kotor, Warganet Soroti Kebersihan Menu MBG di Magetan

Kenaikan juga terjadi pada komoditas telur ayam ras. Berdasarkan data Bapanas per 14 Juli, harga rata-rata nasional mencapai Rp22.644 per kilogram atau naik 0,66 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level Rp22.495 per kilogram.

Harga telur terendah tercatat di Provinsi Banten sebesar Rp20.300 per kilogram, sedangkan harga tertinggi berada di Sulawesi Utara yang mencapai Rp28.200 per kilogram. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp26.500 per kilogram.

"Sekarang untuk petelur sudah mulai antara Rp20.000 sampai Rp21.000, sudah mulai naik perlahan. Kita lihat nanti ke depannya karena akan naik terus nih. Tapi tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," ucap Ketut.

Menurut Ketut, sebelumnya harga ayam dan telur sempat tertekan akibat turunnya permintaan masyarakat selama bulan Suro, ketika aktivitas hajatan dan berbagai acara yang biasanya membutuhkan pasokan unggas berkurang.

"Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara mantenan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi," bebernya.

"Tapi sekali lagi dengan mulainya MBG, kemudian melewati bulan Suro, ini krusial banget. Nah kalau ini sudah dilewati, tentu harga akan mulai terkoreksi positif bagi peternak kita," sambung Ketut.

Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan pemerintah bersama Badan Gizi Nasional (BGN) akan terus menyerap hasil produksi peternak melalui program MBG. Selain itu, pengawasan terhadap pelaksanaan Harga Acuan Pembelian akan dilakukan bersama Satgas Pangan Polri di berbagai daerah.

"Kami sudah mengambil beberapa kebijakan agar kita bisa lindungi peternak telur dan ayam agar jangan sampai merugi. Kami meminta kepada seluruh pengumpul dan pembeli sesuai HAP. Satgas Pangan di daerah akan dikawal," ujar Amran.

Ia juga mengapresiasi para peternak yang dinilai mampu menjaga pasokan telur nasional hingga mencatatkan surplus produksi.

"Aku apresiasi. Aku bangga dengan peternak petelur seluruh Indonesia yang mampu memenuhi kebutuhan anak bangsa. (Mencatat) surplus bahkan ekspor ke negara lain," serunya.

Untuk memperkuat penyerapan hasil produksi, Bapanas dan BGN sebelumnya telah mempercepat penggunaan telur dalam menu MBG di Jawa Timur sebanyak tiga kali dalam sepekan. Kebijakan tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 8–10 persen produksi telur di provinsi tersebut.

Ke depan, Bapanas bersama BGN juga akan memetakan daerah yang mengalami surplus dan defisit pangan agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat menyerap hasil produksi petani dan peternak secara lebih optimal.

Baca Juga: BPDP Pastikan Program B50 dan Subsidi Solar Nelayan Tak Ganggu Dana Peremajaan Sawit

Editor : Moch Vikry Romadhoni
harga pangan Peternak Ayam Telur Ayam Makan Bergizi Gratis Bapanas