Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

BMKG Peringatkan El Nino Kuat Ancam Indonesia: 80 Persen Wilayah Bakal Krisis Air Juli–Oktober 2026

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 3 Juli 2026 | 19:17 WIB
Ilustrasi El Nino dan La Nina pada peta globe (Sumber foto : neefusa.org)
Ilustrasi El Nino dan La Nina pada peta globe (Sumber foto : neefusa.org)

Radar Pasuruan - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengonfirmasi bahwa fenomena El Nino dengan intensitas kuat diprediksi akan memperparah puncak musim kemarau Indonesia dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini diperkirakan membuat hari-hari mendatang jauh lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dari biasanya.

Data terkini BMKG menunjukkan dampaknya sudah mulai terasa. Hingga pertengahan Juni 2026, hampir 40 persen wilayah Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau, dengan separuh wilayah nusantara mengalami curah hujan di bawah normal.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan memperingatkan situasi akan semakin berat pada paruh kedua tahun ini.

"Pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran bulan Juli hingga September," ujar Ardhasena dalam keterangan resminya, Jumat (3/7).

Baca Juga: BMKG Peringatkan Kemarau 2026 Lebih Kering & Panjang, BMKG Minta Warga Tak Panik

Peningkatan intensitas El Nino ini berdampak langsung pada berkurangnya volume curah hujan secara signifikan. Ancaman kekeringan hidrologis dan kelangkaan air bersih kini menjadi risiko nyata yang harus diantisipasi sejak dini.

Sektor pertanian menjadi lini paling rentan yang terancam mengalami gagal panen massal jika tidak segera melakukan adaptasi. BMKG mendesak para petani dan pelaku industri agraria untuk mengubah pola kerja di lapangan.

"Bagi sektor pertanian, beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan antara lain adalah penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering serta berumur genjah, hingga pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan," jelas Ardhasena.

Selain sektor pertanian, masyarakat umum juga diimbau mulai menghemat penggunaan air bersih dan mengantisipasi potensi kebakaran hutan atau lahan di wilayah-wilayah rawan. BMKG berkomitmen memantau dinamika iklim global ini secara ketat dan akan merilis pembaruan data serta prediksi iklim terkini setiap 10 hari sekali melalui kanal resmi pemerintah.

Baca Juga: Ancaman Presiden Prabowo Keras: Bea Cukai Dibubarkan dan Diganti SGS Jika Tak Ada Perbaikan dalam Setahun

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#el nino #kemarau 2026 #Kekeringan #bmkg #ketahanan pangan