Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Presiden Iran Tegas: Rudal Balistik Tidak Akan Pernah Jadi Bahan Negosiasi dengan Siapapun dalam Kondisi Apapun

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 24 Juni 2026 | 17:04 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al Jazeera)
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Al Jazeera)

Radar Pasuruan - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa program rudal balistik negaranya tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi, meski pembicaraan antara Teheran dan Washington terus berlangsung demi mencari penyelesaian permanen konflik di Timur Tengah.

Dalam kunjungannya ke Pakistan usai rangkaian perundingan di Swiss, Pezeshkian menyebut kemampuan rudal menjadi faktor utama yang membuat Iran mampu bertahan dari tekanan militer Israel dan Amerika Serikat selama perang berlangsung. Tanpa kemampuan pertahanan tersebut, menurutnya, Iran berpotensi mengalami nasib serupa seperti Gaza.

"Jika rudal yang kami miliki untuk pertahanan tidak ada, Israel dan Amerika Serikat akan melumat Iran seperti Gaza, tanpa menunjukkan belas kasihan kepada yang tua maupun yang muda," kata Pezeshkian dikutip Al-Arabiya.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa isu pertahanan nasional merupakan garis merah yang tidak dapat ditawar dalam proses diplomasi apapun.

"Kami tidak akan pernah bernegosiasi dengan siapa pun, dalam keadaan apa pun, mengenai kemampuan pertahanan kami," tegasnya.

Sikap keras Teheran ini muncul di tengah perkembangan baru dalam diplomasi Iran-AS. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengkonfirmasi bahwa kesepakatan awal yang ditandatangani Amerika Serikat, Iran, dan pihak mediator tidak mencantumkan program rudal balistik sebagai bagian dari poin perundingan.

Konfirmasi tersebut menjadi sinyal penting mengingat sebelumnya Washington berupaya memasukkan program rudal Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan sebagai bagian dari negosiasi terkait aktivitas nuklir Iran.

Baca Juga: Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Kembali seperti Sebelum Perang usai Perundingan Perdana dengan AS di Swiss

Program rudal Iran sendiri berakar dari pengalaman perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Keterbatasan kemampuan angkatan udara saat itu mendorong Teheran mengembangkan rudal jarak jauh sebagai alat penangkal. Meski berada dalam status embargo perdagangan internasional, teknologi tersebut terus berkembang dengan jangkauan dan tingkat akurasi yang semakin tinggi dalam beberapa dekade terakhir. Selama perang yang dipicu serangan gabungan AS dan Israel, Iran meluncurkan ratusan rudal serta ribuan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk dan wilayah Israel.

Bagi Israel, program rudal Iran telah lama dipandang sebagai ancaman strategis. Dengan jarak sekitar 1.500 kilometer antara kedua negara, kemampuan rudal jarak menengah dan jauh Iran dianggap mampu menjangkau wilayah Israel secara langsung.

Menariknya, Presiden AS Donald Trump belakangan menunjukkan nada yang lebih lunak dibanding posisi Washington sebelumnya. Dalam pertemuan G7 di Prancis pekan lalu, Trump mengisyaratkan bahwa kepemilikan rudal oleh Iran tidak sepenuhnya dapat dipersoalkan selama negara lain di kawasan juga memiliki kemampuan serupa.

"Saya mengatakan bahwa jika negara-negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memiliki sebagian kemampuan itu," ujar Trump.

Meski demikian, pernyataan tegas Pezeshkian menunjukkan Iran belum melihat adanya ruang kompromi terkait kemampuan militernya. Dengan rudal balistik yang dianggap sebagai pilar utama pertahanan nasional, isu tersebut berpotensi tetap menjadi salah satu hambatan terbesar dalam upaya mencapai kesepakatan jangka panjang antara Teheran dan Washington.

Baca Juga: Luhut Buka Suara soal Paradoks Ekonomi Indonesia: Tumbuh Tapi Miskin Bertambah, Ini Hitungan DEN

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Iran Amerika Serikat #Diplomasi Iran #Rudal Balistik Iran #Masoud Pezeshkian #Perundingan Timur Tengah