Radar Pasuruan - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi berpotensi turun, menyusul penurunan harga minyak dunia pascapengumuman meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, Dex, dan jenis bahan bakar lain yang dijual di SPBU swasta mengikuti mekanisme pasar.
"Ketika minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya," ujar Dwi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (17/6).
Dwi menyatakan bahwa jika harga BBM nonsubsidi tidak menyesuaikan dengan fluktuasi harga minyak dunia, hal tersebut dapat mengancam keberlangsungan pengadaan energi nasional. Ia menambahkan, sejumlah negara di Asia Tenggara telah merespons harga minyak dunia dengan menyesuaikan harga BBM mereka. Namun, berdasarkan arahan Presiden dan hasil diskusi dengan badan usaha, harga BBM di Indonesia sempat dipertahankan sebelum akhirnya ditetapkan naik pada 10 Juni lalu demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
"Tapi seiring perjalanan waktu, ini fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha kalau tidak mau, harus menyesuaikan dengan harga ekonomi yang seperti itu," ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, harga minyak mentah dunia kembali jatuh hingga menyentuh level di bawah USD 80 per barel pada perdagangan Rabu (17/6). Anjloknya harga minyak mentah dunia hingga 4 persen dipengaruhi oleh meredanya konflik Amerika Serikat dan Iran yang membuat pasokan minyak dari Timur Tengah kembali normal.
Berdasarkan data Investing pada Rabu (17/6), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,2 persen menjadi USD 76,28 per barel, sementara kontrak berjangka Brent ditutup turun 0,3 persen menjadi USD 79,13 per barel.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Pastikan Insentif Guru Madrasah Non-ASN Mengalir Akhir Bulan Ini
Editor : Moch Vikry Romadhoni