Radar Pasuruan - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajukan usulan anggaran sebesar Rp815,56 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 untuk mendukung program kompor listrik, sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
"Energi yang kami dorong ke depan tidak hanya tentang LPG, tetapi kompor listrik, CNG, dan macam-macam. Yang kami buat itu (kompor listrik) sebesar Rp815,56 miliar," ujar Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin.
Bahlil menjelaskan, program kompor listrik tersebut bertujuan untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Guna mendukung pelaksanaan program ini, Bahlil meminta Komisi XII DPR yang membidangi sektor energi dan sumber daya mineral untuk melakukan pendataan wilayah-wilayah yang membutuhkan kompor listrik.
"Supaya bisa kita melakukan kerja sama dan sinkronisasi," ujar Bahlil.
Selain program kompor listrik, Bahlil juga mengusulkan anggaran tambahan dalam RAPBN 2027 sebesar Rp635,24 miliar untuk program konversi motor listrik.
Baca Juga: Lagu "MBG Mas Bahlil Ganteng" Bikin Heboh Medsos, Golkar: Itu Bentuk Penghargaan Netizen
Anggaran tersebut rencananya akan dikelola oleh Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) Kementerian ESDM.
Kedua program tersebut merupakan program-program baru yang diajukan untuk RAPBN 2027. Bahlil menyebutkan, besaran alokasi anggaran yang diusulkan masih dapat menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran negara.
Wacana peralihan dari kompor berbahan bakar LPG ke kompor listrik sebenarnya pernah digagas pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Namun, pada September 2022, PT PLN (Persero) memutuskan membatalkan rencana pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) menjadi kompor listrik, dengan alasan menjaga kenyamanan masyarakat di tengah proses pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.
Belakangan, saat terjadi kenaikan harga energi akibat konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno kembali mendorong pemerintah untuk melakukan transisi dari kompor berbahan gas ke kompor listrik.
Eddy menyebutkan, peralihan dari kompor gas ke kompor listrik dinilai membutuhkan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan beban subsidi yang harus dikeluarkan untuk impor LPG.
Perubahan dari kompor LPG ke kompor listrik menjadi perhatian Eddy, mengingat harga LPG sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dunia yang terus mengalami kenaikan.
"Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75–80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah," ucap Eddy.
Ia menambahkan, ke depannya akan mendukung upaya pemerintah dalam mempercepat proses elektrifikasi, baik di sektor transportasi, industri, maupun aktivitas memasak menggunakan kompor listrik.
Baca Juga: KPU dan Komisi II DPR Bahas Anggaran Teknologi Pemilu, Butuh Rp12,5 Miliar untuk Wujudkan E-Voting
Editor : Moch Vikry Romadhoni