Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Damai AS-Iran Hampir Tercapai, Tapi Tiga Bom Waktu Masih Mengancam: Nuklir, Hormuz, dan Israel

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:43 WIB
Ilustrasi armada angkatan laut Iran berpatroli di Selat Hormuz dengan kapal tanker minyak melintas di kejauhan. (Gemini AI)
Ilustrasi armada angkatan laut Iran berpatroli di Selat Hormuz dengan kapal tanker minyak melintas di kejauhan. (Gemini AI)

Radar Pasuruan - Di balik klaim tercapainya teks final perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran, sejumlah poin krusial yang menjadi inti negosiasi mulai terungkap. Program nuklir Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pencabutan sanksi ekonomi menjadi isu utama yang menentukan masa depan kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kesepakatan awal yang tengah disiapkan bertujuan mengakhiri perang di semua front, termasuk Lebanon. Namun, persoalan paling sensitif yakni program nuklir Iran belum sepenuhnya diselesaikan. Pembahasan teknis mengenai fasilitas nuklir baru akan dilakukan dalam waktu 60 hari setelah perjanjian penghentian perang ditandatangani, dengan opsi perpanjangan tenggat waktu apabila diperlukan.

Seorang pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup proses penghancuran atau pemindahan uranium yang telah diperkaya Iran. Periode 60 hari pascapenandatanganan akan digunakan untuk menyusun rincian teknis terkait pengelolaan uranium yang tersimpan di sejumlah fasilitas nuklir yang sebelumnya menjadi sasaran serangan militer AS.

Selain isu nuklir, perhatian dunia juga tertuju pada Selat Hormuz. Selama perang berlangsung, Iran menerapkan sistem pungutan terhadap kapal yang melintas di jalur pelayaran strategis tersebut. Araghchi menegaskan Iran menginginkan mekanisme yang memungkinkan Teheran tetap memperoleh kompensasi atas layanan kepada kapal-kapal yang melintas.

"Akan ada biaya yang terlibat, dan biaya itu harus dibayar," kata Araghchi di platform X.

Pejabat AS menyebut rancangan kesepakatan juga memuat ketentuan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz guna memulihkan stabilitas pasokan energi dunia.

Di sisi lain, Israel mempertahankan sikap waspada. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya bukan bagian dari perundingan Washington-Teheran, namun ia dan Presiden Donald Trump sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Menteri Pertahanan Israel Katz bahkan memperingatkan bahwa Israel dapat mengambil langkah independen terhadap Iran apabila dianggap perlu, terlepas dari hasil kesepakatan yang tengah dirundingkan.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#selat hormuz #AS Iran #konflik timur tengah