Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Pertamax Naik Lagi, Pakar Energi Ungkap Akar Masalahnya: Indonesia Terlalu Bergantung Fosil

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 12 Juni 2026 | 17:06 WIB
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Menteng, Jakarta, Rabu (10/6/2026). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Radar Pasuruan - Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax kembali memunculkan sorotan terhadap ketahanan energi Indonesia yang dinilai masih rentan.

Kondisi tersebut dianggap mencerminkan tingginya ketergantungan Indonesia pada energi fosil, sehingga gejolak global dapat dengan cepat berdampak pada harga energi domestik.

Direktur Eksekutif CERAH, Agung Budiono, menjelaskan bahwa kebutuhan energi nasional masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar, sementara produksi minyak domestik terus menurun di tengah meningkatnya konsumsi.

Akibatnya, harga BBM dalam negeri menjadi rentan terhadap perubahan harga minyak dunia maupun fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Baca Juga: Said Iqbal Tegaskan Buruh Tidak Ikut: BBM Pertalite Tidak Naik, Kami Fokus Outsourcing

Kondisi serupa telah berulang kali terjadi. Pada 2008, ketika krisis keuangan global mendorong harga minyak dunia mencapai sekitar USD 145 per barel, harga BBM nonsubsidi sempat naik menjadi Rp 12.000 per liter.

Pada 2022, konflik Rusia-Ukraina mendorong harga minyak hingga sekitar USD 140 per barel dan membuat harga BBM nonsubsidi meningkat menjadi Rp 13.000 per liter.

Kini, memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mendorong harga minyak menyentuh USD 126 per barel turut berkontribusi pada penyesuaian harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter.

"Kondisi ini menunjukkan persoalan utama tidak hanya melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, melainkan bukti bahwa struktur sistem energi di dalam negeri yang masih mengandalkan energi fosil selalu terdampak jika ada gejolak global.

Masyarakat akan terus menghadapi risiko kenaikan harga BBM setiap kali gejolak global terjadi, kecuali pemerintah serius untuk mengurangi ketergantungan tersebut dengan diversifikasi energi terbarukan," kata Agung.

Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik Hari Ini, Pertamax Turbo Tembus Rp19.900 per Liter

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#ketahanan energi #bbm nonsubsidi #Harga Pertamax Naik #Energi Terbarukan #CERAH