Radar Pasuruan - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,8 mengguncang wilayah selatan Filipina pada Senin (8/6), menewaskan sedikitnya 15 orang, merobohkan sejumlah bangunan, dan memicu peringatan tsunami di beberapa negara kawasan Pasifik termasuk Indonesia.
Gempa terjadi di lepas pantai Provinsi Sarangani, sekitar 24 kilometer sebelah barat Pulau Mindanao. Guncangan pada kedalaman dangkal itu menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah pesisir dan memaksa ribuan warga mengungsi ke daerah yang lebih tinggi. Pemerintah Filipina dan Indonesia segera mengeluarkan peringatan darurat kepada masyarakat di kawasan pantai untuk menjauhi garis pantai dan mencari tempat yang aman.
Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Kota General Santos, pusat industri pengolahan tuna dan perdagangan utama di Filipina selatan dengan populasi lebih dari 700 ribu jiwa. Di kota tersebut, sedikitnya satu bangunan dilaporkan runtuh akibat guncangan.
"Sampai sekarang, ada satu kematian yang dilaporkan dan empat terluka. Ini hanya laporan awal," kata Master Sergeant Robert Dagon dari Kepolisian Kota General Santos.
Baca Juga: Guncangan Gempa 7,7 Magnitudo di Myanmar Terasa Hingga Bangkok, 43 Terjebak di Gedung Ambruk
Ia menambahkan bahwa tim penyelamat masih bekerja di sejumlah lokasi sehingga data korban dan kerusakan terus berkembang.
"Many buildings were affected, but I cannot enumerate them now because we are busy with ongoing rescues," ujarnya dilansir via Euronews.
Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan sebuah pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat restoran cepat saji Jollibee hancur menjadi puing-puing. Sebuah gedung sekolah yang dilaporkan sedang kosong saat kejadian juga ikut ambruk di kota lain yang terdampak.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di sejumlah wilayah terdampak di Pulau Mindanao, sekaligus menyerukan warga di kawasan pesisir untuk segera melakukan evakuasi. Hingga kini, otoritas Filipina masih melakukan pendataan korban dan kerusakan, sementara masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gelombang susulan dan aktivitas seismik lanjutan.
Editor : Moch Vikry Romadhoni