Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Bursa Merah Total! IHSG Sempat Jatuh ke 5.644, Panic Selling Tak Terbendung

Moch Vikry Romadhoni • Kamis, 4 Juni 2026 | 19:40 WIB
Layar IHSG di Gedung BEI, Jakarta, beberapa hari lalu. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Layar IHSG di Gedung BEI, Jakarta, beberapa hari lalu. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Radar Pasuruan - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis (4/6) di zona merah. Indeks turun 101,28 poin atau 1,70 persen dan ditutup pada level 5.839,78.

Selama sesi perdagangan berlangsung, tekanan jual sempat menyeret IHSG hingga menyentuh posisi terendah harian di level 5.644. Meski demikian, indeks berhasil memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan perdagangan.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas menilai penurunan IHSG masih dipengaruhi derasnya sentimen negatif di pasar domestik. Berbagai rumor yang beredar di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan rendahnya kepercayaan investor dinilai menjadi faktor utama yang menekan pasar.

"Tekanan jual berlanjut dari perdagangan sehari sebelumnya akibat maraknya berbagai macam rumor di pasar domestik di tengah ketidakpastian yang tinggi serta rendahnya kepercayaan investor," ujarnya di Jakarta, Kamis.

Selain faktor tersebut, pelemahan nilai tukar rupiah juga turut membebani pergerakan pasar saham. Rupiah ditutup melemah sekitar 0,46 persen ke posisi Rp18.049 per dolar Amerika Serikat.

Di kawasan Asia, mayoritas indeks saham juga bergerak di zona negatif. Kondisi tersebut dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia serta memunculkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi global.

Baca Juga: BGN Bongkar 3 Modus Licik Mafia Jual Beli Titik SPPG yang Sudah Rugikan Korban Miliaran Rupiah

Dari sisi teknikal, indikator pasar menunjukkan tekanan jual masih cukup kuat. Pelebaran histogram negatif pada indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) serta munculnya pola death cross pada Stochastic RSI menjadi sinyal bahwa tren pelemahan masih berpotensi berlanjut.

Walaupun IHSG berhasil menjauh dari posisi terendah intraday, indeks diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dan berpotensi menguji area support di kisaran 5.700 hingga 5.800.

Sementara itu, pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai penurunan IHSG disebabkan kombinasi sejumlah sentimen negatif yang datang bersamaan.

Menurutnya, pelemahan rupiah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS terjadi beriringan dengan masih berlangsungnya arus keluar modal asing dari pasar saham maupun pasar surat berharga negara.

"Di saat yang sama, pasar juga mendapat sentimen negatif dari outlook Moody's terhadap Danantara," tuturnya.

Dari faktor eksternal, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Selain itu, kebijakan tarif terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor ekspor Indonesia.

"Kombinasi berbagai sentimen negatif tersebut kemudian diperparah oleh faktor teknikal berupa panic selling dan efek margin call, sehingga aksi jual semakin besar dan membuat penurunan IHSG menjadi lebih dalam pada perdagangan hari ini," jelasnya.

Berdasarkan data Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh sektor ditutup melemah. Sektor industri mencatat penurunan terdalam sebesar 4,07 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor properti yang turun 3,28 persen dan sektor barang konsumsi primer yang terkoreksi 2,36 persen.

Aktivitas perdagangan saham tercatat mencapai 2,29 juta kali transaksi dengan volume 39,68 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp25,53 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 106 saham menguat, 623 saham melemah, dan 85 saham bergerak stagnan.

Baca Juga: Usai Jadi Tersangka Korupsi, Sony Sonjaya Kirim Surat Misterius untuk Nanik Deyang

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#Bursa Efek Indonesia #ihsg #pasar modal #rupiah #saham