Radar Pasuruan - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengungkap alasan kehadiran Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dalam Upacara Hari Lahir Pancasila di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin (1/6). Menurut Hasto, Megawati hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
"Kemarin malam saya mendapat arahan dari Ibu Megawati Soekarnoputri, karena hari ini beliau hadir memperingati peringatan lahirnya Pancasila ya bersama-sama dengan Presiden Republik Indonesia, Bapak Presiden Prabowo dan juga dengan seluruh jajaran BPIP dan seluruh aparatur negara, mengingat kapasitas Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila," kata Hasto di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Senin (1/6).
Hasto membantah kehadiran Megawati dalam acara kenegaraan itu untuk melakukan pertemuan khusus dengan Prabowo. Ia menegaskan bahwa kehadiran Megawati semata-mata untuk memenuhi agenda kenegaraan.
"Nggak, ini kan acara kenegaraan yang dilakukan dan sebagai pelaksananya adalah BPIP," ujarnya.
Meski begitu, Hasto menyebut pertemuan kedua tokoh nasional itu tetap menjadi momentum yang baik bagi keberlangsungan pemerintahan, mengingat adanya kedekatan personal antara Prabowo dan Megawati.
"Beliau adalah Presiden kelima yang punya banyak pengalaman dan juga memiliki hubungan baik kedekatan secara personal dengan Presiden Prabowo, sehingga pertemuan itu kita harapkan akan membahas hal-hal yang strategis tentang berbagai arah bangsa dan negara ke depan," pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadiri upacara peringatan yang digelar di kantor Kemlu tersebut. Kehadiran Megawati menarik perhatian publik karena ia tampak berdiri bersebelahan dengan Gibran di tengah rangkaian acara. Megawati terlihat mengenakan busana batik bernuansa merah yang menjadi ciri khas penampilannya, dan hadir bersama Prabowo serta Gibran saat memasuki area VVIP.
Baca Juga: Trump Ancam Iran dengan Serangan Baru Jika Negosiasi Gagal
Editor : Moch Vikry Romadhoni