Mendikdasmen Bongkar 5 Kelompok Siswa Paling Rentan Dibully di Sekolah: Dari ABK hingga Anak Miskin

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 16:05 WIB
Ilustrasi perundungan atau bullying. (Freepik)
Ilustrasi perundungan atau bullying. (Freepik)

Radar Pasuruan - Perundungan masih menjadi ancaman serius bagi anak-anak, tidak hanya di ruang publik tetapi juga di lingkungan sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengidentifikasi sejumlah faktor yang kerap memicu perundungan, di mana korban umumnya berada pada posisi lebih lemah dibandingkan pelaku baik secara fisik maupun strata sosial.

Berdasarkan pengamatannya, ada lima kelompok siswa yang paling rentan menjadi sasaran perundungan. Pertama, murid yang secara fisik dianggap lebih lemah, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Kedua, murid perempuan. Ketiga, murid dari keluarga ekonomi rendah yang kerap mendapat olok-olok terkait penampilan atau cara berpakaian. Keempat, murid dengan capaian akademik rendah. Kelima, murid dengan kondisi fisik yang berbeda dari teman sebayanya.

"Kita harus melihat sebuah realitas di mana sekolah memang sekarang belum menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak kita. Berbagai bentuk perundungan masih terus terjadi dan bahkan kalau kita lihat ragam perundungannya dan pelakunya juga semakin beragam," ujar Abdul Mu'ti dalam seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman bersama Save the Children Indonesia.

Baca Juga: Tragis! Bocah 8 Tahun Tewas Diduga Akibat Bullying Bernuansa SARA di Sekolah

Isu ini menjadi perhatian serius kementeriannya. Sejumlah upaya telah dilakukan untuk menekan perundungan, antara lain menerbitkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang sekolah aman dan nyaman, mengubah pendekatan di sekolah menjadi lebih humanis dengan mengurangi hukuman berbasis kekerasan, serta menggandeng berbagai pihak dalam upaya pemberantasan perundungan.

Salah satu mitra yang dilibatkan adalah Save the Children Indonesia. CEO Save the Children Dessy Kurwiany Ukar menyatakan kesiapannya berkolaborasi untuk mewujudkan sekolah yang aman dan nyaman. Melalui program Kolaborasi untuk Edukasi Anak Indonesia (KREASI), pihaknya tengah mengintervensi lebih dari 500 satuan pendidikan di 8 kabupaten dan 4 provinsi.

"Harus kita akui ya, memang sekolah belum sepenuhnya aman. Melalui kolaborasi ini, kami berkomitmen mendukung pemerintah agar anak tumbuh tanpa kekerasan dan mendapatkan pendidikan berkualitas," papar Dessy Kurwiany Ukar.

Baca Juga: Bukan Sekadar Blusukan! Pengamat Bongkar Misi Tersembunyi Safari Jokowi: Selamatkan PSI dan Jaga Posisi Gibran

Editor : Moch Vikry Romadhoni
Perundungan Sekolah Sekolah Aman Save the Children abdul mu'ti bullying