Radar Pasuruan - Sebuah tambang emas ilegal di wilayah barat laut Angola longsor pada Sabtu (23/5), menewaskan 28 orang termasuk 13 anggota dari satu keluarga. Dua orang lainnya hingga kini masih belum ditemukan.
"Sebanyak 28 orang tewas, termasuk 13 di antaranya dari satu keluarga, dan dua lainnya hilang setelah tambang untuk memproduksi mineral strategis ilegal seperti emas, longsor," kata juru bicara Kepolisian Gaspar Luis Inacio kepada stasiun radio RNA, dikutip dari Antara, Senin (25/5).
Operasi pencarian dan penyelamatan di lokasi kejadian masih terus berlangsung. Tiga orang yang mengalami luka-luka kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Bengo dan dilaporkan dalam kondisi stabil, menurut petugas pengawas kesehatan Francisco Rodrigues kepada RNA.
Para penyintas mengungkapkan bahwa lebih dari 70 penambang berada di lokasi saat longsor terjadi.
Baca Juga: Lukisan SBY Laku Rp6,5 Miliar, Diborong Konglomerat Tambang
Angola merupakan negara kaya sumber daya alam yang terletak di pesisir barat daya Afrika, dengan cadangan minyak dan berlian yang melimpah. Negeri itu dijajah Portugal selama sekitar 400 tahun sejak berdirinya koloni pada 1575, ketika penjelajah Paulo Dias de Novais mendirikan pemukiman di Luanda yang kini menjadi ibu kota Angola.
Setelah berabad-abad di bawah kolonialisme, Angola memproklamasikan kemerdekaannya pada 11 November 1975. Namun negara ini langsung terjebak dalam perang saudara berkepanjangan selama lebih dari dua dekade, hingga akhirnya perdamaian penuh tercapai pada 2002. Pasca konflik, Angola bertransformasi menjadi salah satu ekonomi terbesar di Afrika dengan gencar membangun infrastruktur dan memperluas kemitraan ekonomi global.
Baca Juga: Darurat Kesehatan Gaza Memburuk: 26.000 Kematian Baru di 2025, Obat Habis, Rumah Sakit Lumpuh Total
Editor : Moch Vikry Romadhoni