Radar Pasuruan - Kondisi Gaza, Palestina, semakin memprihatinkan. Sejumlah sumber medis memperingatkan situasi darurat terkait persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis yang kian menipis, memperparah krisis layanan kesehatan dan mengancam jiwa ribuan pasien di wilayah tersebut.
Dilansir dari Antara, Senin (25/5), sebanyak 250 pasien gagal ginjal berisiko kehilangan akses dialisis akibat kelangkaan larutan Bibag. Delapan anak yang membutuhkan perawatan intensif juga terancam karena minimnya filter medis yang tersedia. Di sisi lain, kekosongan stok suntikan insulin memperburuk kondisi sekitar 11.000 pasien diabetes, sementara 110 pasien hemofilia menderita parah akibat nihilnya perawatan VACTOR di Jalur Gaza.
Akhir pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Wilayah Mediterania Timur menggambarkan lumpuhnya layanan kesehatan dan kehancuran kehidupan manusia di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, sebagai sebuah tragedi yang mengerikan.
Dalam pernyataan yang dipublikasikan Kamis (21/5), Direktur WHO untuk Wilayah Mediterania Timur Dr. Hanan Balkhy mengungkapkan sejak Oktober 2023, lebih dari 72.000 orang telah meninggal dunia dan 182.000 lainnya mengalami luka-luka.
"Pada 2025 saja, hampir 26.000 kematian baru telah dilaporkan," kata Balkhy.
Baca Juga: PBB Sebut Gaza Neraka bagi Jurnalis, Hampir 300 Jurnalis Tewas
Balkhy menyebutkan bahwa meski gencatan senjata sempat dicapai pada Oktober 2025, pembunuhan terhadap warga sipil terus berlanjut, layanan kesehatan masih terganggu, dan akses kemanusiaan tetap terbatas.
Saat ini tidak ada satu pun rumah sakit yang beroperasi secara penuh di Gaza, termasuk di wilayah Gaza utara. Lebih dari separuh stok obat-obatan esensial telah habis, sementara ribuan pasien masih membutuhkan evakuasi medis mendesak.
Kondisi diperparah oleh penyebaran penyakit menular di tengah kepadatan penduduk dan memburuknya sanitasi. Kebutuhan layanan kesehatan mental juga melonjak tajam, sementara risiko bagi ibu hamil dan bayi baru lahir terus meningkat.
Di Tepi Barat, WHO memastikan situasi pun terus memburuk akibat meningkatnya kekerasan dan pembatasan akses.
Krisis finansial otoritas Palestina turut membatasi layanan kesehatan secara signifikan, dengan rumah sakit umum yang hanya mampu menyediakan layanan darurat. WHO telah mengajukan anggaran senilai USD 648 juta atau sekitar Rp 11,4 triliun untuk mendanai sektor kesehatan sepanjang 2025, namun baru menerima 75 persen dari jumlah tersebut.
Terlepas dari berbagai hambatan itu, WHO telah mengirimkan lebih dari 4.000 metrik ton pasokan medis darurat ke Gaza serta memfasilitasi pengiriman bahan bakar demi menjaga keberlangsungan sistem kesehatan di sana.
Balkhy menegaskan bahwa pernyataan politik semata tidak cukup untuk menopang operasi kemanusiaan. Ia mendesak adanya perlindungan nyata bagi fasilitas kesehatan, penyaluran bantuan berkelanjutan, serta pencabutan pembatasan yang menghambat masuknya pasokan medis dan tim darurat.
Balkhy juga meminta dukungan internasional untuk memulihkan layanan kesehatan, mengurangi ketergantungan pada evakuasi medis, dan membuka kembali jalur rujukan dari Tepi Barat.
Editor : Moch Vikry Romadhoni