Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen Seketika! Damai AS-Iran di Depan Mata, Pasar Energi Global Bergejolak

Moch Vikry Romadhoni • Senin, 25 Mei 2026 | 16:56 WIB
ILUSTRASI: Pengeboran minyak mentah dunia. (Istimewa)
ILUSTRASI: Pengeboran minyak mentah dunia. (Istimewa)

Radar Pasuruan - Harga minyak dunia terjun lebih dari 5 persen pada perdagangan Senin (25/5), seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip Reuters, kontrak minyak mentah Brent tercatat turun USD 5,09 atau 4,9 persen menjadi USD 98,45 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot USD 5,22 atau 5,4 persen ke posisi USD 91,38 per barel.

Penurunan tajam ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut nota kesepahaman terkait perdamaian dengan Iran sebagian besar telah berhasil dinegosiasikan. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz yang selama ini menjadi sumber kekhawatiran utama pasar energi global.

Meski demikian, proses negosiasi dilaporkan belum sepenuhnya berjalan mulus. Kedua negara masih berselisih dalam sejumlah isu krusial, termasuk mekanisme pembukaan blokade Selat Hormuz dan penyelesaian berbagai tuntutan ekonomi Iran. Trump bahkan menegaskan pemerintahannya tidak ingin tergesa-gesa mencapai kesepakatan final, sehingga pelaku pasar tetap memilih berhati-hati.

Baca Juga: Jalur Minyak Dunia Dikunci, Iran Terapkan Aturan Baru di Selat Hormuz

"Kita pernah berada di tahap ini sebelumnya, hanya untuk kemudian pembicaraan gagal. Oleh karena itu, pasar kemungkinan akan lebih berhati-hati agar tidak bereaksi berlebihan," ujar Kepala Strategi Komoditas ING Warren Patterson, seperti dikutip Reuters, Senin (25/5).

Analis Anis Phillip Nova Priyanka Sachdeva turut menilai bahwa normalisasi distribusi minyak global tidak akan berlangsung dalam waktu singkat. Infrastruktur minyak dan gas yang rusak akibat konflik diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan sebelum kembali beroperasi penuh.

"Semakin lama krisis ini berlarut-larut, semakin dipertanyakan apakah para pemimpin dunia benar-benar menginginkan berakhirnya gangguan ini dengan cepat," jelas Phillip.

Di tengah gejolak tersebut, perusahaan energi AS justru tercatat mulai menggenjot aktivitas pengeboran. Baker Hughes melaporkan jumlah rig minyak dan gas alam AS bertambah tujuh unit menjadi 558 rig pada pekan yang berakhir 22 Mei 2026 — level tertinggi sejak Juni 2025 dan menandai kenaikan lima pekan berturut-turut. Kendati begitu, jumlah total rig masih berada di bawah angka periode yang sama tahun lalu.

Sachdeva menambahkan, indikator teknikal menunjukkan pasar mulai berupaya menstabilkan diri setelah aksi jual besar pada pekan sebelumnya. Namun kepercayaan investor dinilai masih rapuh di tengah ketidakpastian geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.

"Indikator momentum menunjukkan pasar sedang berupaya untuk stabil setelah aksi jual agresif pekan lalu, tetapi keyakinan tetap lemah," tandasnya.

Baca Juga: Dipukul, Ditendang, Disetrум Israel, Jurnalis Republika Pulang dan Ungkap: 9.000 Tahanan Palestina Jauh Lebih Menderita

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#harga minyak dunia #selat hormuz #AS Iran #Minyak Brent #donald trump