Radar Bromo - Amerika Serikat dan Iran dilaporkan membuka peluang melanjutkan perundingan damai pada pekan depan di Islamabad. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang melibatkan serangan militer, blokade laut, hingga ancaman terhadap jalur distribusi energi dunia.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan kedua negara tengah menyusun nota kesepahaman berisi 14 poin yang akan menjadi dasar pembicaraan baru guna menghentikan konflik dan meredakan situasi di Timur Tengah.
Fokus utama dalam negosiasi tersebut meliputi program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, hingga pembahasan mengenai stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Teheran.
Apabila tercapai, kesepakatan awal itu akan menjadi fondasi perundingan selama satu bulan dengan kemungkinan perpanjangan melalui persetujuan kedua pihak.
Menurut sumber yang mengetahui proses diplomasi tersebut, rancangan memorandum satu halaman itu mencakup sejumlah isu sensitif dalam hubungan Washington dan Teheran.
Selain membahas program nuklir Iran, negosiasi juga diarahkan untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama perdagangan minyak dan gas dunia.
Baca Juga: Jalur Minyak Dunia Dikunci, Iran Terapkan Aturan Baru di Selat Hormuz
Isu lain yang masuk dalam pembahasan adalah kemungkinan pemindahan stok uranium Iran yang telah diperkaya ke negara lain. Langkah tersebut disebut menjadi salah satu opsi untuk mengurangi kekhawatiran internasional terkait potensi pengembangan senjata nuklir.
Namun hingga kini, sejumlah poin penting masih belum menemukan kesepakatan, terutama terkait pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran.
Perdebatan mengenai seberapa besar pelonggaran sanksi yang akan diberikan Washington diperkirakan menjadi hambatan terbesar dalam negosiasi mendatang.
Iran selama ini menjadikan pencabutan sanksi sebagai syarat utama normalisasi hubungan, sementara pemerintah AS disebut masih berhati-hati memberikan konsesi di tengah tekanan politik dan keamanan kawasan.
Jika pembicaraan berlangsung positif, masa dialog awal selama satu bulan dapat diperpanjang untuk membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih permanen.
Pakistan kembali memainkan peran penting sebagai mediator antara Washington dan Teheran dalam proses diplomasi tersebut.
Sebelumnya, gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Islamabad. Namun putaran pertama perundingan pada 11 April belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Meski demikian, Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa menetapkan batas waktu resmi.
Di sisi lain, sejak 13 April, AS juga disebut mulai memberlakukan blokade angkatan laut terhadap lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz, yang semakin meningkatkan tekanan terhadap Teheran.
Situasi tersebut membuat perundingan pekan depan dipandang sebagai momentum penting untuk mencegah konflik berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.
Baca Juga: Kemenag Siapkan Aturan Baru Pesantren Usai Marak Kasus Kekerasan Seksual
Editor : Moch Vikry Romadhoni