Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Proyek Listrik dari Sampah Jakarta Siap Dibangun, Investasi Tembus USD 1 Miliar

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 6 Mei 2026 | 16:30 WIB
Ilustrasi TPST Bantargebang di Kota Bekasi. pemprov DKI Jakarta bersama Danantara akan membangun hinigga 5 PLTSa untuk atasi problem sampah di Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)
Ilustrasi TPST Bantargebang di Kota Bekasi. pemprov DKI Jakarta bersama Danantara akan membangun hinigga 5 PLTSa untuk atasi problem sampah di Jakarta. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Radar Pasuruan - CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, memperkirakan nilai investasi pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Jakarta dengan kapasitas 8.000 ton per hari mencapai sekitar USD 1 miliar. Ia menyebut kebutuhan investasi berkisar Rp 2 triliun untuk setiap 1.000 ton sampah per hari.

"Kalau saya bicara 8.000 (ton per hari), investasinya kurang lebih USD 1 billion (USD 1 miliar)," kata Rosan saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Senin (4/6).

Rosan menjelaskan bahwa proyek PSEL di Jakarta ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2028. Ia juga membuka kemungkinan kapasitas fasilitas akan ditingkatkan lebih dari 8.000 ton per hari untuk mengatasi timbunan sampah lama di TPST Bantargebang.

"Mungkin kita akan membangunnya bisa jadi (kapasitas) lebih dari 8.000 (ton per hari). Kenapa? Untuk bisa ambil sampah lama. Karena harapannya nanti di Bantargebang itu bersih. Jadi, mungkin pembangunannya tidak 8.000 (ton per hari), bisa 10.000 atau 12.000 (ton per hari) supaya sampah lama itu bisa terambil," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa teknologi yang digunakan memungkinkan pengolahan sampah tanpa perlu pemilahan awal. Seluruh jenis sampah, termasuk yang sudah lama menumpuk, dapat langsung diproses.

"Kalau dari teknologi yang kita sudah terapkan, ini tidak perlu dipisahkan. Jadi bisa langsung gitu. Karena kita juga melihat environment-nya, kemudian masalah bau, masalah lahan, kita juga sangat memperhatikan itu semua," kata Rosan.

Pada hari yang sama, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Danantara Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait percepatan pembangunan fasilitas PSEL tersebut.

Kebijakan ini mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menugaskan Menteri Koordinator Bidang Pangan untuk mengoordinasikan percepatan pengolahan sampah perkotaan menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan.

Dalam skema tersebut, Danantara berperan sebagai mitra strategis pemerintah pusat dan daerah, termasuk dalam penyiapan pembiayaan serta proses pemilihan badan usaha pengembang dan pengelola.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta mengusulkan dua lokasi pembangunan PSEL, yakni di Bantargebang dan Tanjung Kamal Muara.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa persoalan sampah di Jakarta telah menjadi kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan terintegrasi.

"Timbunan sampah Jakarta mencapai 9.000 ton per hari. Saat ini, 87 persen masih bergantung pada open dumping, seperti Bantargebang yang sudah jauh melebihi kapasitas. Kalau diukur (sampah) Bantargebang itu seperti gedung 16-17 lantai," kata Zulhas.

Ia menegaskan bahwa penandatanganan MoU menjadi bentuk komitmen pemerintah dalam mengatasi permasalahan sampah di Jakarta, sekaligus optimistis persoalan tersebut dapat mulai teratasi dalam dua tahun ke depan.

"Jakarta hari ini membuktikan bahwa arahan itu bukan sekadar angka, tapi aksi nyata," kata Zulhas.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#berita ekonomi #psel jakarta #sampah bantargebang #energi listrik #danantara indonesia