Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Film “Para Perasuk” Tampilkan Ritual Mistis yang Justru Membahagiakan

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 24 April 2026 | 19:25 WIB
Pemain dan pembuat film “Para Perasuk” dalam konferensi pers usai pratayang film tersebut, di Jakarta, Selasa (14/4/2026). ANTARA/Sri Dewi Larasati.
Pemain dan pembuat film “Para Perasuk” dalam konferensi pers usai pratayang film tersebut, di Jakarta, Selasa (14/4/2026). ANTARA/Sri Dewi Larasati.

Radar Pasuruan - Film Para Perasuk karya sutradara Wregas Bhanuteja menghadirkan pendekatan berbeda dalam industri perfilman Indonesia. Alih-alih menampilkan kerasukan sebagai hal menakutkan, film ini justru menggambarkannya sebagai pengalaman yang membawa kebahagiaan.

Wregas mengangkat fenomena kerasukan sebagai pengalaman komunal melalui tradisi Pesta Sambetan, yang digambarkan sebagai hiburan masyarakat desa. Dalam tradisi ini, Perasuk berperan mengiringi musik yang memicu ritual kerasukan roh hewan, membawa para Pelamun ke dalam “alam sambet” yang penuh euforia.

“Silakan gabung di pesta sambetan. Bareng-bareng kita lupain bentar ya cicilan, masalah keluarga lepasin semua di alam sambet,” menjadi salah satu dialog yang menggambarkan suasana pesta di Desa Latas.

Desa Latas digambarkan sebagai wilayah pinggiran kota yang menjadikan pesta sambetan sebagai tradisi turun-temurun sekaligus sarana hiburan warga.

Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul ancaman dari pembangunan yang berpotensi merusak sumber mata air keramat—tempat para Perasuk terhubung dengan roh hewan. Hal ini memicu konflik bagi Bayu yang diperankan Angga Yunanda, seorang pemuda yang ingin menjadi Perasuk.

Kesempatan datang ketika Guru Asri, yang diperankan Anggun C. Sasmi, membuka perekrutan Perasuk baru untuk menggelar pesta sambetan demi menggalang dana penyelamatan sumber air dari ancaman perusahaan.

Bayu pun berambisi menjadi Perasuk Utama dengan menjalani latihan fisik dan mental untuk terhubung dengan roh hewan. Dalam cerita, terdapat berbagai roh hewan yang memberikan pengalaman berbeda bagi para Pelamun.

Namun perjalanan Bayu tidak mudah. Ia harus menghadapi persaingan dengan Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan), konflik dengan ayahnya (Indra Birowo), serta hubungan kompleks dengan Laksmi yang diperankan Maudy Ayunda.

Film ini menyoroti perjalanan Bayu sebagai gambaran anak muda yang berusaha keluar dari keterbatasan hidup. Keputusannya menjadi Perasuk menjadi bentuk pelarian dari ketidakpastian hidup di kota, sekaligus harapan untuk memperoleh kepastian ekonomi.

Namun, ambisi tersebut perlahan berubah menjadi obsesi yang justru menjauhkan dirinya dari orang-orang terdekat. Konflik batin yang dialami Bayu menjadi inti cerita yang mengajak penonton merefleksikan batas antara mimpi dan kenyataan.

Melalui karakter Bayu, Wregas menyampaikan pesan bahwa obsesi terhadap impian tidak boleh membuat seseorang kehilangan koneksi dengan dunia sekitar.

Dari sisi akting, penampilan para pemain menjadi daya tarik tersendiri. Angga Yunanda tampil total dalam menggambarkan transformasi karakter Bayu, termasuk dalam adegan fisik seperti memainkan alat musik dan gerakan kerasukan.

Sementara itu, Maudy Ayunda mampu menampilkan karakter Laksmi dengan harmoni emosi dan ekspresi yang kuat. Anggun C. Sasmi juga tampil sebagai sosok pemimpin yang tegas sekaligus humanis.

Secara visual, film ini membangun dunia fiksi yang imersif, di mana pesta sambetan tidak hanya menjadi ritual, tetapi juga ruang pelarian dari tekanan hidup.

Meski di awal cerita terasa cukup kompleks, Para Perasuk menawarkan pengalaman sinematik yang unik dan telah tayang di bioskop Indonesia sejak 23 April 2026.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#para perasuk #film indonesia #angga yunanda #maudy ayunda #wregas bhanuteja