Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Joki UTBK Incar Fakultas Kedokteran, Pakai Identitas Palsu Demi Lolos PTN Favorit

Moch Vikry Romadhoni • Rabu, 22 April 2026 | 16:50 WIB
Ilustrasi joki UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya. (AI)
Ilustrasi joki UTBK-SNBT 2026 di Universitas Negeri Surabaya. (AI)

 

Radar Pasuruan - Kasus dugaan perjokian ditemukan pada hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026 di Universitas Negeri Surabaya pada Selasa (21/4).

Terungkap bahwa peserta yang menggunakan jasa joki tersebut menargetkan kursi Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di wilayah Malang, Jawa Timur. Dengan demikian, lokasi ujian di Unesa hanya digunakan sebagai tempat pelaksanaan tes.

Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, usai meninjau UTBK-SNBT hari kedua di Kampus Lidah Wetan Unesa.

"Iya, kedokteran (jurusan yang diincar peserta penyewa joki), kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur. (Profil pelaku dari Surabaya?) Kita masih menunggu hasil penyelidikan," ucapnya.

Menurutnya, praktik perjokian ini tidak hanya merusak integritas pendidikan, tetapi juga sudah masuk kategori tindak kriminal karena adanya pemalsuan identitas demi keuntungan ekonomi.

"Kita harus bertindak tegas, ini (temuan kasus perjokian) harus didalami, bukan hanya jokinya saja, tetapi dia bertindak atas nama siapa, keduanya karena melakukan perbuatan yang melanggar aturan," tegas Prof. Atip.

Sementara itu, Wakil Rektor I Unesa, Martadi, menyebut pelaku joki berjenis kelamin laki-laki dengan usia sekitar 23 hingga 24 tahun.

"Kemarin yang bersangkutan kita tanya, katanya dia orang Madura. Namun ketika kita tanya dalam bahasa Madura, dia tidak bisa, memang anak yang dijoki berasal dari sana, sehingga dia mengaku seperti itu," tutur Martadi.

Modus yang digunakan tergolong rapi, yakni memanfaatkan foto dari kartu UTBK-SNBT 2025 yang diedit untuk menyerupai peserta. Namun, nama yang tertera berbeda.

"Kita menemukan ada potensi (kecurangan), foto dengan tingkat kemiripan hampir 95 persen. Foto ini digunakan di dua SPMB yang berbeda. Dari situlah kemudian kita coba telusuri dan dia mengaku memang joki," ujarnya.

Panitia juga menduga adanya pemalsuan dokumen seperti ijazah dan KTP. Hasil verifikasi menunjukkan data nama sesuai, tetapi foto pada ijazah berbeda sehingga kuat dugaan dokumen tersebut palsu.

Lebih jauh, kasus ini mengarah pada dugaan jaringan yang lebih luas. Pola serupa ditemukan di beberapa kampus lain, termasuk Universitas Airlangga, meskipun peserta tidak hadir.

Martadi menilai para joki bukan pelaku individu biasa, melainkan bagian dari sistem yang terorganisir. Mereka direkrut secara berlapis dan tidak saling mengenal antar sesama joki.

"Mereka direkrut, tetapi tidak saling tahu satu, antara joki mereka tidak saling kenal. Mereka hanya bertemu satu pihak di atasnya. Satu layer di atasnya lagi diduga bukan dari Jatim, melainkan jaringan nasional," pungkasnya.

Pihak Unesa menegaskan tidak akan mentoleransi segala bentuk kecurangan. Peserta yang terbukti melanggar akan didiskualifikasi dan masuk daftar hitam, serta kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#utbk 2026 #joki utbk #unesa #kecurangan #pendidikan