Radar Pasuruan - Pemerintah Amerika Serikat mengkhawatirkan dampak politik jika harga bensin melampaui USD 3 atau sekitar Rp51.300 per galon.
“Jika kita tidak melihat harga bensin 3 dolar per galon, kita akan terpukul,” kata sumber yang dekat dengan Gedung Putih, seperti dikutip Politico, Senin (20/4).
Laporan tersebut menyebut bahwa para ahli strategi di dalam dan sekitar pemerintahan Presiden Donald Trump telah mengantisipasi perkembangan pasar energi, terutama menjelang musim pemilu pada musim gugur tahun ini.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyatakan bahwa Menteri Energi Chris Wright keliru saat mengatakan harga bensin di AS kemungkinan tidak akan turun hingga tahun depan. Saat ditanya kapan harga akan menurun, Trump menjawab “segera setelah ini berakhir.”
Pada Minggu, Wright menyebut harga bensin kemungkinan tidak akan kembali ke level sebelum konflik Iran pada tahun ini.
Baca Juga: Wow! Prabowo Ditelepon Donald Trump, Ini yang Dibahas
Pada 28 Februari, AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan.
Eskalasi konflik tersebut hampir menghentikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.
Meski belum ada pengumuman resmi terkait dimulainya kembali konflik, AS dilaporkan mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Editor : Moch Vikry Romadhoni