Radar Pasuruan - Ketegangan antara kekuatan politik global dan otoritas moral kembali mencuat ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik lanjutan terhadap Paus Leo XIV. Kritik tersebut muncul di tengah tur Afrika sang Paus yang justru dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan perdamaian serta kritik terhadap praktik korupsi dan dominasi elit kekuasaan.
Dalam situasi tersebut, Paus Leo tidak merespons secara personal, melainkan memperluas isu menjadi refleksi global mengenai pentingnya keadilan, integritas, dan hidup berdampingan di tengah kompleksitas konflik dunia.
Dilansir dari Reuters, Kamis (16/4/2026), Paus Leo menyampaikan seruan tegas saat berada di Yaounde, ibu kota Kamerun. Di hadapan Presiden Paul Biya, ia mendesak pemerintah untuk memberantas korupsi dan tidak tunduk pada kepentingan kelompok elit.
Pidato tersebut menandai perubahan gaya komunikasi Paus Leo yang sebelumnya lebih moderat. “Sudah saatnya kita memeriksa hati nurani dan mengambil langkah berani ke depan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa legitimasi kekuasaan hanya dapat dijaga melalui integritas, bukan kepentingan sempit.
Selain itu, ia menyatakan, “Agar perdamaian dan keadilan dapat terwujud, rantai korupsi—yang mencederai otoritas dan menghilangkan kredibilitasnya—harus diputus.” Pernyataan ini disampaikan di hadapan pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Joseph Dion Ngute, tanpa tanggapan terbuka dari pemerintah.
Selain isu korupsi, Paus Leo juga menyoroti konflik berkepanjangan di wilayah berbahasa Inggris di Kamerun yang telah menimbulkan banyak korban jiwa. Ia juga mengingatkan ancaman dari kelompok militan seperti Boko Haram di wilayah utara yang berdampak pada masa depan generasi muda.
Di sisi lain, kritik dari Donald Trump kembali muncul melalui media sosial, memperpanjang dinamika ketegangan selama tur tersebut. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, bahkan mengingatkan agar Paus berhati-hati dalam menyampaikan pandangan terkait isu teologis dan geopolitik. Namun, Paus Leo menegaskan kepada Reuters bahwa ia akan tetap konsisten menyuarakan kritik terhadap perang.
Baca Juga: Diserang Trump, Paus Leo Justru Guncang Dunia dengan Pesan Moral
Dalam penerbangan dari Aljazair menuju Kamerun, Paus Leo tidak menanggapi langsung kritik tersebut. Ia justru menekankan pentingnya dialog lintas budaya dan agama sebagai dasar perdamaian global. “Walaupun kita memiliki keyakinan dan cara hidup yang berbeda, kita tetap dapat hidup bersama dalam damai,” ujarnya.
Tur Afrika ini mencakup empat negara selama 10 hari, termasuk Angola dan Guinea Khatulistiwa. Dengan jarak tempuh hampir 18.000 kilometer melalui 18 penerbangan ke 11 kota, perjalanan ini menjadi salah satu yang paling kompleks dalam sejarah kepausan modern.
Di Kamerun, sambutan masyarakat berlangsung meriah. Ribuan warga memadati jalanan Yaounde untuk menyambut kedatangan Paus, mencerminkan harapan terhadap pesan moral yang dibawanya. Ia juga dijadwalkan mengunjungi Bamenda, pusat wilayah berbahasa Inggris, untuk memimpin misa dan menghadiri pertemuan perdamaian.
Puncak kunjungan diperkirakan berlangsung di Douala dengan sekitar 600.000 umat diprediksi menghadiri misa akbar. Dalam dinamika geopolitik yang kompleks, langkah Paus Leo XIV dinilai sebagai upaya menjaga relevansi suara moral di tengah dominasi kepentingan politik global.
Editor : Moch Vikry Romadhoni