MAN 1 Ciemas di Sukabumi Tolak Distribusi MBG, Guru Merasa Terbebani

Moch Vikry Romadhoni • Dipublikasikan Senin, 13 April 2026 | 17:34 WIB
Menyoroti viralnya surat permohonan yang diduga dilayangkan pihak SMAN 1 Ciemas ke SPPG Al-Mubarokah soal distribusi MBG di sekolah.  (Instagram.com/@infopnsdanpppk)
Menyoroti viralnya surat permohonan yang diduga dilayangkan pihak SMAN 1 Ciemas ke SPPG Al-Mubarokah soal distribusi MBG di sekolah. (Instagram.com/@infopnsdanpppk)

 

Radar Pasuruan - Beredar di media sosial sebuah surat yang diduga berasal dari SMAN 1 Ciemas, Sukabumi, terkait permohonan kepada SPPG Al-Mubarokah mengenai pelaksanaan distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam unggahan akun Instagram @infopnsdanpppk pada Senin (13/4), surat tersebut berisi keberatan pihak sekolah terhadap mekanisme distribusi MBG yang dinilai membebani para guru.

"SMAN 1 Ciemas menyampaikan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG di sekolah," demikian tertulis dalam unggahan tersebut.

Sekolah menilai bahwa keterlibatan guru dalam pembagian MBG justru mengganggu tugas utama mereka dalam kegiatan pembelajaran.

"Pihak sekolah menilai distribusi MBG justru mengganggu tugas utama guru yang seharusnya fokus pada pembelajaran, pembimbingan, dan evaluasi siswa," sambungnya.

Dalam surat bertajuk 'Permohonan Pelaksanaan Teknis Distribusi MBG', dijelaskan bahwa tugas utama guru adalah mengajar, sehingga kegiatan distribusi makanan tidak termasuk dalam tugas pokok dan fungsi tenaga pendidik.

"Dan tidak termasuk dalam tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pendidik atau tenaga kependidikan," tertulis dalam surat tersebut.

Selain itu, sekolah menegaskan bahwa tanggung jawab distribusi sepenuhnya berada pada pihak SPPG sebagai pelaksana teknis.

"Pihak SPPG selaku pelaksana teknis bertanggung jawab penuh atas rantai pasok hingga ke titik akhir (siswa penerima manfaat)," tegas pihak sekolah.

Sekolah juga menilai kewajibannya hanya sebatas menyediakan fasilitas pendukung, bukan sebagai pelaksana distribusi.

Dalam surat tersebut juga disinggung adanya polemik di masyarakat yang menuding guru mengambil jatah makanan siswa yang tidak hadir.

"Munculnya polemik dan tuduhan tidak berdasar dari masyarakat terkait transparansi jatah makanan siswa yang tidak hadir," tulisnya.

Hal ini dinilai mencederai martabat profesi guru serta berpotensi menimbulkan risiko sosial dan hukum.

Atas dasar itu, pihak sekolah menyatakan keberatan jika distribusi MBG dibebankan kepada guru dan staf, termasuk pengelolaan sisa makanan.

"Menolak tanggung jawab atas pengelolaan sisa makanan siswa yang tak hadir," tulisnya.

Sebagai solusi, pihak sekolah meminta agar SPPG Al-Mubarokah menyediakan tim khusus untuk menangani distribusi makanan di lingkungan sekolah.

"Menuntut agar pihak SPPG Al-Mubarokah segera menyediakan tenaga khusus atau petugas distribusi mandiri," demikian isi surat tersebut.

Hingga saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak SPPG terkait beredarnya surat tersebut di media sosial.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
sukabumi guru sekolah Mbg viral