Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga, Prof. Bagong Suyanto, menilai peristiwa tragis tersebut menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan mental anak-anak di lingkungan sosial.
"Anak-anak yang tinggal di daerah terpencil seringkali kurang mendapatkan perhatian penuh terhadap aspek psikologis mereka, terutama di lingkungan pedesaan," ucap Prof. Bagong di Surabaya, Sabtu (7/2).
Ia menekankan bahwa khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), akses terhadap layanan psikologis masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat anak-anak lebih rentan merasa terasing dan minim dukungan ketika menghadapi tekanan maupun persoalan hidup.
Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair tersebut, peran keluarga serta lingkungan sekitar sangat krusial dalam mengenali tanda-tanda gangguan psikologis pada anak sejak dini.
"Kesehatan mental anak harus menjadi prioritas. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan masyarakat sekitar sangat penting untuk mencegah kejadian serupa di masa depan," imbuhnya.
Dalam peristiwa ini, korban berinisial YBR, berusia 10 tahun, dikenal sebagai anak pendiam dan penurut. Ia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dan sejak usia 1 tahun 7 bulan tinggal bersama neneknya.
YBR hidup bersama sang nenek di sebuah pondok bambu berukuran sekitar 2x3 meter di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada. Ia tinggal terpisah dari ibu kandungnya, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan.
Melihat latar belakang tersebut, Prof. Bagong menyoroti kemiskinan sebagai faktor yang berpengaruh besar terhadap kondisi kesehatan mental anak, sehingga mereka rentan mengalami kecemasan, stres, hingga keputusasaan.
"Kondisi ekonomi yang sulit menyebabkan stres dan kecemasan pada anak-anak, yang berimbas pada kesejahteraan mental mereka. Ketika orang tua sulit memenuhi kebutuhan dasar, anak merasakan dampaknya," ucap Bagong.
Belakangan, publik dikejutkan dengan kabar meninggalnya YBR, siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, yang ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkeh pada Kamis (29/1) sekitar pukul 11.00 WITA.
Peristiwa memilukan yang terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, bermula dari permintaan sederhana yang tak dapat dipenuhi.
Sehari sebelum kejadian, YBR sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.
Ibu korban, MGT (47), menuturkan bahwa sebelum peristiwa terjadi, YBR menginap di rumahnya pada malam hari. Keesokan paginya sekitar pukul 06.00 WITA, YBR diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.
“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.
Ayah YBR diketahui telah meninggal dunia sebelum ia dilahirkan. Selama ini, YBR tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun, sementara sang ibu menetap di kampung lain bersama lima anak lainnya.
Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBR duduk di depan rumah neneknya, meski seharusnya ia berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, jasad YBR ditemukan oleh warga yang sedang menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.
Tragedi tersebut semakin menyayat hati setelah polisi menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBR yang ditujukan kepada ibunya dan keluarga.
Editor : Moch Vikry Romadhoni