Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Jusuf Kalla Soroti Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Singgung Faktor Kemiskinan

Moch Vikry Romadhoni • Jumat, 6 Februari 2026 | 17:46 WIB

 

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla memberikan respons terkait tragedi siswa SD bunuh diri di Ngada, NTT. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla memberikan respons terkait tragedi siswa SD bunuh diri di Ngada, NTT. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

Radar Pasuruan - Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla, turut menyoroti kasus bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Usai menghadiri Sidang Paripurna Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jumat (6/2), Jusuf Kalla memberikan tanggapan singkat terkait peristiwa tersebut.

Menurutnya, tragedi yang menimpa YBR, 10 tahun, siswa kelas IV SD Negeri RJ, menunjukkan realitas pahit dunia pendidikan yang masih berkaitan erat dengan persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

“Ya itu lah, komentarnya kita sudah banyak yang dibicarakan bahwa Indonesia ini (permasalahan) kemiskinan memang harus kita atasi, karena itu (tragedi bocah SD bunuh diri di NTT) akibat dari kemiskinan,” ujar JK.

Saat ditanya mengenai langkah evaluasi yang perlu dilakukan pemerintah agar kejadian serupa tidak terulang, Jusuf Kalla kembali menekankan faktor ekonomi sebagai hal utama yang perlu diperbaiki.

“Ya ekonominya,” ucapnya singkat sebelum meninggalkan gedung Airlangga Convention Center (ACC).

Belakangan, publik dihebohkan dengan kabar meninggalnya seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10 tahun, yang diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkeh pada Kamis (29/1) sekitar pukul 11.00 WITA.

Peristiwa memilukan yang terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada itu disebut bermula dari permintaan sederhana yang tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga.

Sehari sebelum kejadian, YBR diketahui meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.

Sang ibu, MGT, 47, menceritakan bahwa YBR sempat menginap di rumahnya pada malam sebelum kejadian. Keesokan paginya, sekitar pukul 06.00 WITA, YBR diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.

“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.

Ayah YBR diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBR tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, sementara ibunya tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.

Pada pagi hari kejadian, warga sempat melihat YBR duduk di depan rumah neneknya, meski seharusnya ia berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, tubuh YBR ditemukan oleh warga yang sedang menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.

Peristiwa tersebut semakin menyayat hati setelah polisi menemukan secarik kertas berisi pesan terakhir tulisan tangan YBR yang ditujukan untuk ibunya dan keluarga.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#sd #muhammad jusuf kalla