Radar Pasuruan - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) seharusnya diposisikan sebagai alat pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI secara berlebihan justru berpotensi menumbuhkan ketergantungan yang berdampak buruk.
Nezar menilai, penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini, khususnya di kalangan mahasiswa, agar pemanfaatan AI tetap dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab. Menurutnya, AI boleh dimanfaatkan untuk membantu riset atau memecahkan masalah, namun proses analisis dan pengambilan kesimpulan harus tetap dilakukan oleh manusia.
“Kita harus menumbuhkan kesadaran agar mahasiswa tidak bergantung pada AI. AI boleh digunakan sebagai alat bantu riset atau memecahkan persoalan, namun analisis akhir dan proses berpikir harus tetap dilakukan oleh manusia. Jangan sampai mereka cemas saat tidak ada akses AI karena merasa tidak bisa berpikir,” ujarnya di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Rabu (3/2).
Ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap fenomena mahasiswa yang menggunakan AI secara instan tanpa melalui proses analisis mendalam. Kebiasaan tersebut dinilai berisiko melemahkan daya kritis serta kemampuan berpikir mandiri.
Nezar menekankan bahwa hasil keluaran AI tidak bisa langsung dianggap sebagai kebenaran mutlak. Oleh karena itu, AI sebaiknya diperlakukan hanya sebagai referensi awal dalam proses akademik.
“Yang benar adalah hasil yang dibuat oleh AI ini enggak langsung di-copy paste, tapi dia memparafrase lagi dan kemudian ini dijadikan sebagai alat bantu riset dia,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi dampak negatif tersebut, Nezar menyebut bahwa sejumlah negara telah mulai menerapkan kembali metode evaluasi konvensional di dunia pendidikan. Salah satunya dengan menguji kemampuan analitik mahasiswa melalui penulisan esai secara manual tanpa bantuan teknologi digital.
“Di beberapa universitas luar negeri bahkan sudah kembali ke metode tulis tangan untuk esai guna memastikan kemampuan analitik mahasiswa tetap terjaga. AI adalah mitra, bukan pengganti otak manusia,” tambahnya.
Ia berharap, langkah-langkah tersebut dapat menjaga ketajaman berpikir kritis mahasiswa sekaligus mencegah ketergantungan berlebihan terhadap teknologi AI.
Editor : Moch Vikry Romadhoni