Bangil Hiburan Incip-Incip Internasional Kepribadian Madinah Van Java Mlaku-Mlaku Nasional Olahraga Pandaan

Sosiolog UGM Bantah KDM: Kebohongan Pedagang Es Kue Bukan Sekadar Moral

Moch Vikry Romadhoni • Sabtu, 31 Januari 2026 | 17:35 WIB

 

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

Radar Pasuruan - Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) AB. Widyanta menolak pandangan KDM yang menyebut kebohongan pedagang es kue viral, Suderajat, hanya sebagai persoalan moral individu.

Menurutnya, penilaian tersebut terlalu menyederhanakan masalah dan menutupi kegagalan negara dalam memberikan perlindungan struktural kepada warganya.

“Alih-alih memperbaiki sistem dan menjaga mekanisme perlindungan terhadap seluruh warga negara, persoalan-persoalan itu dialihkan ke ruang moral publik. Hingga urban kembali dibebani tanggung jawab atas etis, tentang etika, atas cara ia berkaitan hidup itu,” ujar Widyanta saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (30/1).

Dari perspektif sosiologi, Widyanta menjelaskan bahwa relasi kuasa yang muncul dalam kasus tersebut justru memperlihatkan absennya negara secara struktural.

Empati publik kemudian berperan sebagai pengganti sementara dari tanggung jawab institusional, sehingga persoalan ini tidak dapat dilihat secara hitam-putih.

Menurutnya, ruang publik saat ini telah sangat dipengaruhi oleh media dan media sosial yang membentuk apa yang disebut sebagai ekonomi atensi. Dalam situasi tersebut, viralitas kerap mengalihkan perhatian dari akar masalah menuju penghakiman moral terhadap individu.

Widyanta menilai kondisi ini sebagai krisis dalam pengelolaan keadilan di masyarakat berbasis tontonan. Oleh sebab itu, persoalan tidak bisa disederhanakan hanya menjadi soal mentalitas atau etika personal, melainkan perlu diarahkan pada bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana media membingkai peristiwa, serta bagaimana empati publik terbentuk.

Ia juga menyinggung munculnya modal simbolik dari simpati publik. Dorongan moral untuk membantu sering kali memunculkan dukungan dan donasi, namun dinamika tersebut tidak terlepas dari realitas ruang publik digital yang sarat dengan perebutan atensi.

“Jadi memang tidak bisa kita menyalahkan si Bapak itu yang tidak jujur. Secara moral bisa saja, tetapi tentu tidak sesimpel itu, karena inilah dinamika sosial ruang publik di era digital,” pungkasnya.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) sempat menggebrak meja dan meluapkan kemarahan kepada pedagang es kue, Suderajat, yang sebelumnya viral usai difitnah dan diintimidasi oknum aparat kepolisian dan TNI karena dituding menjual es berbahan spons. Kemarahan KDM dipicu oleh dugaan kebohongan Suderajat dalam sejumlah pernyataan.

Terbaru, Suderajat disebut mengaku masih mengontrak rumah, padahal diketahui memiliki rumah sendiri. Ia juga tercatat pernah menerima bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu). Fakta tersebut memicu emosi KDM yang mempertanyakan kebohongan yang dinilai berulang.

Peristiwa itu terjadi saat KDM menelusuri kebenaran status tempat tinggal Suderajat melalui pertemuan langsung dengan Ketua RW setempat. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan bahwa rumah yang ditempati Suderajat merupakan milik pribadi.

“Rumah sendiri, Pak. Tanahnya juga tanah sendiri,” ujar Ketua RW Suderajat di hadapan KDM, dikutip dari kanal YouTube-nya, Jumat (30/1).

KDM yang sebelumnya menerima informasi bahwa Suderajat hidup serba kekurangan dan masih mengontrak rumah, langsung bereaksi keras. Ia menilai Suderajat telah menyampaikan keterangan yang tidak sesuai fakta.

“Babeh bilangnya ngontrak, bohong sih! Kenapa bohong terus?” kata KDM dengan nada tinggi sambil memperbaiki posisi duduk.

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#es kue #viral #KDM